1
1

OJK Dorong Produk Asuransi Makin Inovatif dan Mudah Dipahami Konsumen

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi. | Foto: OJK

Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan industri asuransi agar inovasi produk tidak justru membuat masyarakat semakin sulit memahami manfaat dan perlindungan yang ditawarkan. Produk asuransi yang semakin canggih tetap harus dibuat sederhana dan mudah dijelaskan kepada konsumen.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan inovasi memang menjadi bagian penting dalam pengembangan industri asuransi. Namun, produk yang terlalu kompleks berisiko membuat konsumen maupun tenaga pemasar kesulitan memahami cara kerja dan manfaat produk tersebut.

“Jadi kira-kira bikin produk jangan yang terlalu sophisticated yang ribet, yang bahkan sales-nya pun sulit memahami, apalagi konsumennya,” kata Friderica, dalam paparannya di acara Insurance Leadership Executive Program yang digelar oleh Dewan Asuransi Indonesia (DAI) di Jakarta, Senin, 14 September 2026.

Ia menceritakan pengalamannya ketika pernah ditawari sebuah produk asuransi. Saat ditanya mengenai alasan mengapa produk tersebut perlu dibeli, tenaga penjual justru tidak mampu memberikan penjelasan yang memadai dan hanya menyebut produk tersebut sudah banyak dibeli.

|Baca juga: OJK Peringatkan Risiko Baru Industri Asuransi dari Iklim hingga AI

Menurutnya kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perusahaan memastikan produk yang ditawarkan benar-benar dapat dipahami tenaga pemasar sebelum diperkenalkan kepada masyarakat. Dengan begitu, konsumen tidak hanya menerima informasi mengenai produk, tetapi juga memahami perlindungan yang sebenarnya mereka beli.

OJK juga menilai edukasi kepada masyarakat masih menjadi pekerjaan penting bagi industri. Friderica mencontohkan pengalaman seorang diplomat yang meminta istrinya membeli asuransi kesehatan. Setelah rutin membayar premi, keluarga tersebut baru mengetahui bahwa produk yang dibeli ternyata merupakan asuransi jiwa.

|Baca juga: DAI Pertemukan Bos-bos Industri Asuransi Lewat Insurance Leadership Executive Program

“Banyak sekali masyarakat yang masih sangat membutuhkan pencerahan dari Bapak (dan) Ibu semua,” ujar Friderica.

Karena itu, ia meminta perusahaan asuransi tidak hanya berfokus pada penjualan produk. Edukasi kepada calon konsumen perlu diberikan secara jelas dan berimbang, mulai dari manfaat, karakteristik, hingga perlindungan yang diberikan. Pendekatan tersebut menjadi semakin penting di tengah upaya industri asuransi memperluas pasar.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2026 yang disampaikan OJK, tingkat literasi asuransi mencapai 42,84 persen, sedangkan inklusi asuransi baru 29,55 persen. Artinya, masih ada kelompok masyarakat yang sudah mengetahui dan memahami asuransi, tetapi belum menggunakan produknya.

Friderica melihat kondisi tersebut sebagai peluang bagi industri untuk memperluas penggunaan asuransi. Namun, pertumbuhan tersebut harus dibarengi dengan produk yang relevan dan mudah dipahami agar masyarakat tidak sekadar membeli polis, tetapi juga mengetahui perlindungan yang mereka miliki.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post OJK Peringatkan Risiko Baru Industri Asuransi dari Iklim hingga AI
Next Post Rayakan Milad ke-23, AASI Jaga Momentum Pertumbuhan Industri Asuransi Syariah

Member Login

or