Media Asuransi, JAKARTA – Chief Economist Citi Indonesia Helmi Arman menyebut tekanan terhadap rupiah diperkirakan mulai mereda pada paruh kedua 2026. Pelemahan dolar Amerika Serikat (US$) akan menjadi salah satu faktor yang membuka ruang bagi penguatan rupiah hingga akhir tahun.
Helmi mengatakan ada sejumlah faktor global yang dapat menekan US$. Salah satunya berasal dari pasar minyak dunia yang diperkirakan kembali mengalami surplus apabila arus perdagangan melalui Selat Hormuz pulih sepenuhnya.
“Bila arus perdagangan minyak di Selat Hormuz ini sepenuhnya sudah kembali lancar, kondisi pasar minyak dunia akan surplus,” ujar Helmi dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis 20 Agustus 2026.
Penurunan harga minyak tersebut juga berpotensi memberikan dampak positif bagi Indonesia. Pasalnya, kebutuhan devisa untuk impor minyak dapat berkurang sehingga tekanan terhadap neraca eksternal dan rupiah ikut mereda.
Faktor berikutnya berasal dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Citi memperkirakan imbal hasil US Treasury, terutama tenor pendek, akan turun hingga akhir 2026 seiring dengan proyeksi bahwa The Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga.
|Baca juga: Citi Indonesia Cetak Laba Rp994 Miliar, DPK Tumbuh 23% di Semester I/2026
|Baca juga: Destry Maju Jadi Gubernur BI, Ini Pesan Bos Citi untuk Kebijakan Bank Sentral
Saat ini, suku bunga The Fed berada di kisaran 3,50-3,75 persen. Helmi memperkirakan level tersebut akan bertahan karena inflasi AS masih menunjukkan tren penurunan. “Inflasi inti di Amerika sekarang sekitar 2,5 persen, itu turun ke arah 2,2 persen atau 2,3 persen,” kata Helmi.
Selain itu, US$ juga diperkirakan melemah terhadap euro dan yuan China. Pergerakan tersebut dipengaruhi oleh perbedaan arah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat, Eropa, dan China.
Citi memperkirakan European Central Bank (ECB) berpeluang menaikkan suku bunga pada September 2026, sementara The Fed diperkirakan masih menahan FFR. Di sisi lain, surplus perdagangan China yang mencapai sekitar tiga persen dari PDB turut menjadi faktor yang menopang yuan.
Dari dalam negeri, rupiah mendapat dukungan dari perbaikan transaksi berjalan. Citi memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia kembali menyempit pada semester II/2026.
Dengan kombinasi pelemahan US$, potensi penurunan harga minyak, serta membaiknya transaksi berjalan, Citi melihat tekanan terhadap rupiah berpeluang lebih ringan hingga akhir 2026.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

