Media Asuransi, JAKARTA – Ekonomi syariah Indonesia sering disebut punya potensi besar untuk jadi pemain utama global. Salah satu kuncinya ada di halal value chain yang menyambungkan setiap titik, dari bahan baku di hulu, proses produksi di tengah, sampai produk siap dijual ke pasar di hilir.
Ibarat menenun kain, kalau satu benang di ujung terputus, seluruh kain tidak akan pernah selesai. Begitu juga rantai nilai halal semua titiknya harus tersambung rapi. Salah satu ceritanya datang dari sebuah label modest fashion di Yogyakarta bernama Luvnic.
Berdiri sejak 2016, Luvnic adalah singkatan dari Love Your Uniqueness lahir dari kecintaan sang pemilik, Luvi, pada dunia fashion. Awalnya bukan soal mimpi besar, cuma coba-coba menerapkan hobi ke bisnis.
|Baca juga: Penguatan Ekonomi Syariah Difokuskan Lewat UMKM dan Koperasi Desa
Di titik hulu inilah tantangan pertama muncul memenuhi standar sertifikasi halal dari bahan baku sampai proses produksi. Bukan perkara instan tapi butuh usaha ekstra memastikan setiap bahan bersertifikat halal.
Bagi konsumen, sertifikasi ini bukan sekadar label, ini jaminan bahwa produk yang dipakai sehari-hari, dari kain sampai jahitannya, benar-benar terjaga kehalalannya sejak dari bahan baku. “Butuh effort di awal, tapi begitu terbiasa, jadi lebih enak ke depannya,” kata Luvi dikutip dari website Bank Indonesia.
Tetapi hulu yang kuat saja belum cukup. Seperti yang hampir semua pelaku UMKM alami, termasuk Luvnic di awal perjalanannya, pernah mentok soal modal untuk naik kelas produksi ini titik tengah dari rantai nilai yang sering jadi ganjalan.
Belum lagi titik hilir, barang bagus saja tidak cukup kalau tak tahu caranya menembus pasar luar negeri.
Ekosistem yang Menjawab Tantangan
Di titik itulah dukungan mulai berperan, menyambung bagian tengah dari rantai nilai yang tadinya putus. Luvnic mulai dikenal lewat berbagai acara di Jogja, sampai akhirnya menjadi salah satu UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY. Kurasi di Festival Syariah 2023 membawa Luvnic menyabet juara pertama fashion show mewakili DIY, sekaligus memperkuat kualitas produksi di titik tengah ini.
|Baca juga: BI Sebut Posisi Indonesia Kian Kokoh Jadi Pusat Ekonomi dan Keuangan Syariah Dunia
Dukungan semacam ini sejalan dengan arah kebijakan Bank Indonesia lewat Blueprint Ekonomi dan Keuangan Syariah (Eksyar) 2030, yang fokus memperkuat rantai nilai halal dari sisi produk hingga akses pembiayaan. Pembiayaan syariah nasional sendiri tercatat tumbuh 10,84 persen secara tahunan per April 2026, dengan kualitas kredit yang tetap sehat rasio risiko kredit hanya 2,28 persen. Bagi UMKM seperti Luvnic, ini jalan keluar nyata dari soal modal yang tadinya jadi ganjalan.
Paris dan Jakarta Jadi Saksi
Dengan hulu dan tengah yang makin kokoh, titik hilir pun mulai terbuka. Setahun setelah Festival Syariah, Luvnic diikutsertakan dalam ajang mode internasional IN2MF di Paris pada 2024 kesempatan ekspor yang dulu terasa jauh, kini terbuka lewat fasilitasi BI. “Awalnya nggak kepikiran bakal sejauh ini,” ujar Luvi.
Titik hilir ini makin nyata di Halal Expo Indonesia (HEI) 2026, pameran yang mempertemukan pelaku industri halal dari sembilan negara D-8 di Senayan, Jakarta. Sebelum acara resmi dibuka pun, produk Luvnic sudah laku, dibeli pengunjung asal Iran. Koleksi kali ini didominasi kain katun ringan bernuansa earth tone, salah satu koleksinya dipadu bordir minimalis bermotif padi simbol kemakmuran yang dekat dengan keseharian masyarakat.
|Baca juga: Nilai Ekonomi Halal Dunia 12 Kali Lipat APBN, Indonesia Berpeluang Jadi Pemain Utama
Produk Luvnic juga sudah dapat ditemui di gerai Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), dengan pembeli setia dari Korea, China, hingga Malaysia. Bukan kebetulan produk ini menarik minat pembeli dari berbagai negara jaminan halal yang melekat sejak dari hulu jadi salah satu alasan kepercayaan itu terbangun.
Rantai nilai halal yang tersambung dari hulu ke hilir inilah yang bikin cerita Luvnic bukan kasus tunggal. Data terbaru Bank Indonesia mencatat sektor halal value chain tumbuh 6,2 persen pada 2025, dengan kontribusinya terhadap PDB nasional naik menjadi 27 persen. Artinya, semakin banyak ‘Luvnic-Luvnic’ lain yang rantai nilainya juga mulai tersambung utuh.
Rantai yang Terus Dirajut
Meski sudah sejauh ini, bagi Luvi, HEI 2026 bukan garis akhir. Tantangan yang masih dihadapi pun cukup nyata, makin tinggi permintaan pasar, makin besar kebutuhan produksi, sementara kualitas para pengrajin di titik hulu harus tetap stabil. “Ini memang harus diselesaikan pelan-pelan, sabar kasih pemahaman ke pengrajin,” ujar Luvi.
Dia tambahkan, targetnya ke depan sederhana tapi ambisius, punya toko sendiri di beberapa negara memperpanjang rantai nilai ini sampai benar-benar mendunia.
Perjalanan Indonesia menuju pusat ekonomi syariah dunia memang dibangun dari rantai-rantai kecil seperti ini satu per satu, bukan dalam semalam. “Maksimalkan apa yang ada di diri kita, karena kita ini luar biasa, apapun bidangnya,” pesan Luvi.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
