Media Asuransi, JAKARTA – Kepala Divisi Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK Tara Setyaningtyas menyoroti perilaku generasi muda dalam berinvestasi yang dinilai masih belum ideal meski memiliki akses dan pengetahuan keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
Dalam peluncuran Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana, di Jakarta, Senin, 27 April 2026, Tara mengungkapkan, generasi muda saat ini memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan pasar keuangan. Namun, perilaku investasi mereka masih cenderung berorientasi jangka pendek.
|Baca juga: OJK Soroti Prospek Cerah Asuransi Kendaraan Listrik di Indonesia
|Baca juga: OJK: Musim Haji 2026 Jadi Peluang Besar bagi Industri Asuransi RI
“Di mana menarik, riset yang dilakukan oleh CFA Institute terkait dengan Gen Z and investing, begitu dengan Jakpat Survey di 2024 terkait dengan Gen Z Paradox. Di situ menunjukkan generasi muda kita ini memiliki akses dan juga pengetahuan keuangan yang cukup tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya,” ujar Tara.
“Namun sayangnya, tantangan juga ada di sini gitu. Jadi dari survei yang dilakukan, ternyata perilaku FOMO gitu ya, perilaku untuk juga lebih mengedepankan tujuan-tujuan jangka pendek ini terus tetap terjadi,” tambahnya.
Ia menjelaskan kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada kualitas keputusan investasi yang diambil oleh generasi muda. Padahal, kelompok ini dinilai memiliki peran penting dalam memperluas basis investor di Indonesia.
|Baca juga: Isu Merger dengan MUFG Menyeruak, Begini Penjelasan Resmi Bank Danamon (BDMN)!
|Baca juga: APRDI Sebut Ruang Tumbuh Reksa Dana Masih Sangat Besar, Ini Alasannya!
“Sehingga dari program Reksa Dana, kami fokuskan yang pertama dari sisi literasi atas legalitas layanan keuangan mereka. Kemudian bagaimana pengelolaan keuangan mereka ini harus dilakukan secara sehat dan juga meningkatkan kesadaran perencanaan keuangan tidak hanya jangka pendek namun juga jangka panjang,” jelasnya.
Menurut Tara, pendekatan yang dilakukan OJK melalui program PINTAR Reksa Dana tidak hanya bertujuan meningkatkan jumlah investor, tetapi juga membentuk pola pikir investasi yang lebih matang dan berkelanjutan.
“Iya, jadi sebetulnya jika kita lihat hasil survei nasional literasi keuangan yang OJK lakukan 2024 lalu menarik, di mana untuk indeks inklusi keuangan Indonesia sendiri sebetulnya sudah mencapai 80,51 persen. Sedangkan untuk indeks literasi keuangannya ini posisi kita di 66,46 persen,” tuturnya.
|Baca juga: Astra International (ASII) Bakal Tebar Dividen Final Rp292 per Saham, Simak Jadwal Lengkapnya!
Ia menambahkan, meski tingkat inklusi dan literasi keuangan Indonesia sudah cukup tinggi, namun tantangan ke depan adalah memastikan masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya memahami produk keuangan, tetapi juga mampu mengelola investasi dengan tujuan jangka panjang.
Melalui program ini, OJK berharap dapat mendorong perubahan perilaku investor muda agar lebih rasional dan tidak hanya mengikuti tren, sehingga mampu memperkuat struktur pasar keuangan domestik secara berkelanjutan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
