Media Asuransi, JAKARTA – Asosiasi Pelaku Reksa Dana & Investasi Indonesia (APRDI) mengungkapkan reksa dana telah mengalami perjalanan yang sangat panjang di mana pertama kali diluncurkan pada 1996. Saat ini, jumlah produk reksa dana telah menyentuh angka ribuan.
Ketua Presidium APRDI Lolita Liliana menyebutkan reksa dana telah berusia 30 tahun dari sejak reksa dana diluncurkan pertama kali pada 1996. Sementara hingga akhir Maret 2026, tercatat jumlah produk reksa dana telah mencapai lebih dari 2.000 produk.
|Baca juga: CASA Melonjak 40,6%, SMBC Indonesia Cetak Kinerja Solid di Awal 2026
|Baca juga: Isu Merger dengan MUFG Menyeruak, Begini Penjelasan Resmi Bank Danamon (BDMN)!
“Jumlah investornya (di reksa dana) barusan dibahas sudah mencapai 26,1 juta. Meningkat pesat di Maret masih tercatat 23 juta SID,” kata Lolita, dalam sambutannya di Kegiatan Peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (PINTAR) Reksa Dana serta Pembukaan Pekan Reksa Dana Tahun 2026, di Jakarta, Senin, 27 April 2026.
Sementara dana kelolaan reksa dana, lanjutnya, telah mencapai lebih dari Rp700 triliun. Apabila digabungkan dengan pengelolaan kontrak pengelolaan dana atau KPD telah mencapai lebih dari Rp1.000 triliun. Dirinya menilai angka tersebut merupakan dana kelolaan tertinggi.
“Terima kasih atas dukungannya. Semua pencapaian tersebut tentunya berkat dukungan dari seluruh pihak, baik regulator dari OJK maupun SRO, para pelaku reksa dana dan stakeholders lainnya. Kami mengapresiasi seluruh pihak yang terus mendukung perkembangan industri reksa dana hingga saat ini,” ujarnya.
|Baca juga: IHSG Berpeluang Rebound Hari Ini, BNI Sekuritas Sarankan 6 Saham Berikut untuk Trading
|Baca juga: Astra International (ASII) Bakal Tebar Dividen Final Rp292 per Saham, Simak Jadwal Lengkapnya!
Lebih lanjut, ia menilai, seluruh pencapaian tersebut masih bisa ditingkatkan lagi di masa mendatang. Pasalnya, potensi atau peluang yang ada sangat terbuka lebar. Misalnya, reksa dana dan jumlah investornya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih relatif kecil dan bisa terus bertumbuh di kemudian hari.
“Dari seluruh pencapaian tersebut tentu saja masih terdapat potensi yang sangat besar. Saat ini dibandingkan di GDP kita baru empat persen. Kemudian juga jumlah investor yang walaupun sudah 26 juta itu masih sekitar delapan persen dari jumlah penduduk,” tuturnya.
Ia menilai kondisi itu memunculkan tantangan dan peluang. Selain itu, tambahnya, industri reksa dana masih membutuhkan sejumlah inovasi dan kreativitas agar dapat membentuk produk-produk yang cocok dan diminati oleh masyarakat di masa mendatang.
|Baca juga: Pembiayaan Bermasalah Industri Pindar Melonjak, Begini Penjelasan Bos OJK!
|Baca juga: Inilah Peraih CEO Award 2026 Media Asuransi
“Kemudian kami juga tentu saja membutuhkan dukungan dan insentif untuk membentuk dan membangun budaya berinvestasi, khususnya dalam menciptakan kebutuhan dalam mempersiapkan kebutuhan keuangan di masa depan,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
