1
1

Eastspring Investments Indonesia: Minimnya Katalis Membatasi Pergerakan Pasar Saham Indonesia

Ilustrasi pergerakan reksa dana. | Foto: Eastspring Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Di tengah penguatan mayoritas saham regional Asia yang didukung meredanya tensi di Timur Tengah dan penurunan harga Brent ke kisaran US$72 per barel, pasar saham Indonesia justru bergerak melemah.

IHSG ditutup turun -1,28 persen atau -75,34 poin ke level 5.820,79. Beberapa saham yang menjadi penekan terbesar adalah BBCA (-4,05 persen), TLKM (-2,82 persen), BREN (-4,48 persen), BBRI (-1,05 persen), dan BMRI (-1,25 persen).

|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: IHSG Melanjutkan Koreksi di Tengah Ketidakpastian Domestik dan Tekanan Global

Dikutip dari Spring Flash oleh tim PT Eastspring Investments Indonesia, Aktivitas transaksi harian yang terus menurun pasca keputusan MSCI mempertahankan status freeze Indonesia, turut membuat pergerakan indeks menjadi lebih rentan dan volatile. Nilai transaksi pada perdagangan hari ini hanya mencapai Rp7,65 triliun, jauh di bawah rata-rata nilai transaksi harian sepanjang bulan Juni sebesar Rp19,32 triliun.

Hal ini mengindikasikan bahwa antusiasme pelaku pasar terhadap saham domestik masih relatif terbatas. Selama belum terdapat katalis domestik yang cukup kuat untuk memperbaiki sentimen, pasar saham Indonesia kemungkinan masih akan bergerak cenderung lesu dalam jangka pendek.

|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Sentimen Pasar Kembali Dibayangi Dinamika Domestik yang Masih Berkembang

Di sisi lain, nilai tukar rupiah menguat sekitar 0,40 persen terhadap dolar AS ke kisaran Rp17.851 per dolar AS. Penguatan ini tampaknya turut didukung oleh minat beli investor di pasar obligasi, tercermin dari penurunan yield SBN di berbagai tenor, dengan yield SBN 10 tahun turun 1 bps (basis points) menjadi 7,15 persen. Investor asing mencatatkan net inflow pada pasar obligasi sebesar US$162,6 juta pada Kamis pekan lalu.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi Indonesia bulan Juni yang diperkirakan meningkat 3,2 persen year on year (yoy) dari 3,08 persen yoy pada bulan Mei. Meski demikian, kondisi moneter domestik telah mengalami pengetatan yang cukup besar sepanjang bulan Juni sehingga investor menilai siklus pengetatan ini mulai berhasil menstabilkan nilai tukar Rupiah.

Diperkirakan bahwa perhatian pasar masih akan tertuju pada langkah regulator dan pemerintah dalam memperkuat kredibilitas kebijakan, memulihkan kepercayaan investor, serta menjaga daya tarik pasar keuangan domestik.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Sesi I Melemah ke 5.679
Next Post Berkat Tersembunyi di Balik Konflik AS dan Israel versus Iran

Member Login

or