Media Asuransi, JAKARTA – Pasar saham Indonesia Kembali berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini. Hingga penutupan sesi pertama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat melemah sekitar -2,42 persen atau -141,04 poin ke level 5.679,75, berlawanan dengan mayoritas bursa saham Asia yang bergerak relatif stabil.
Sejumlah saham yang menjadi penekan utama pada sesi pertama, yaitu BBCA (-3,38 persen), BBRI (-2,11 persen), ASII (-3,61 persen), BRMS (-7,60 persen), dan EMAS (-8,98 persen).
Dikutip dari Spring Flash oleh tim PT Eastspring Investments Indonesia, sentimen domestik masih cenderung berhati-hati di tengah aktivitas perdagangan yang tetap terbatas pascakeputusan MSCI untuk menunda evaluasi lebih lanjut terhadap pasar saham Indonesia. Di sisi lain, sejumlah perkembangan kebijakan pemerintah terkait pengelolaan likuiditas yang masih menjadi perhatian pelaku pasar turut membayangi sentimen, terutama terhadap prospek stabilitas nilai tukar rupiah. Pada siang hari ini, rupiah sendiri telah melemah sekitar 0,28 persen ke level Rp17.901 per dolar AS di tengah penguatan indeks dolar AS.
|Baca juga: OJK Pastikan Keuangan Berkelanjutan Jadi Mekanisme Pasar yang Kredibel
Meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong penurunan harga minyak memang membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan fiskal domestik. Namun, perkembangan tersebut sejauh ini belum cukup untuk mengembalikan minat investor terhadap pasar saham Indonesia, di tengah masih terbatasnya katalis positif dari dalam negeri.
|Baca juga: IHSG Sesi I Melemah ke 5.679
Ke depan, hingga jadwal peninjauan MSCI pada November 2026 untuk mengevaluasi implementasi serta efektivitas reformasi pasar modal Indonesia, aktivitas perdagangan diperkirakan masih akan berlangsung relatif moderat dengan pelaku pasar cenderung bersikap selektif.
Momentum pemulihan berpotensi memperoleh dukungan apabila implementasi kebijakan domestik mampu melampaui ekspektasi pasar, seperti realisasi penghematan fiskal yang lebih kuat dari perkiraan, serta didukung oleh lingkungan global yang semakin kondusif. Kombinasi faktor-faktor tersebut berpotensi menjadi katalis bagi meningkatnya kepercayaan investor dan aktivitas di pasar saham domestik.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

