Sejumlah indikator, menunjukkan bahwa kondisi perekonomian kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Apapun sebabnya, baik karena faktor eksternal maupun internal. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah melemah 4,92 persen sejak awal tahun. Pada akhir tahun lalu, 31 Desember 2025, rupiah tercatat berada di level Rp16.670 per dolar AS. Nilainya kemudian turun menjadi Rp17.490 per dolar AS pada 30 April 2026.
Apakah pelemahan nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap perekonomian? Tentu saja, iya. Inflasi akan cenderung meningkat karena masih cukup banyak barang impor, baik konsumsi maupun barang modal. Jika dibeli dengan dolar AS yang nilainya meningkat, maka kemungkinan akan dijual dalam rupiah dengan nilai lebih tinggi jika dibandingkan saat mata uang kita belum terdepresiasi.
Di sisi lain, dunia saat ini menghadapi kemungkinan kenaikan harga minyak mentah. Bank Dunia memperkirakan harga rata-rata Brent mencapai US$86 per barel pada 2026, naik tajam dari US$69 per barel pada 2025. Sejauh ini, kenaikan harga minyak mentah ini belum terlalu berdampak terhadap perekonomian Indonesia, karena pemerintah masih mempertahankan harga BBM bersubsidi.
Dalam kondisi seperti ini, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 5,61 persen (year on year/yoy) pada triwulan I/2026 jika dibandingkan terhadap triwulan I/2025. Menurut Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I/2026 ditopang oleh aktivitas ekonomi domestik. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,52 persen yoy, didorong oleh aktivitas perekonomian dan mobilitas masyarakat yang meningkat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447 H serta paket stimulus pemerintah untuk mendorong konsumsi.
Lantas bagaimana ke depannya? Survei Konsumen Bank Indonesia pada April 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 yang berada pada level optimis (indeks >100) sebesar 123,0, meningkat dibandingkan bulan Maret yang sebesar 122,9.
Terjaganya keyakinan konsumen pada April 2026 terutama ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat sebesar 116,5, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 115,4. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) terjaga di level optimis sebesar 129,6, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 130,4.
Sementara itu, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) mengindikasikan kinerja kegiatan dunia usaha pada triwulan I/2026 terjaga. Hal ini tecermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 10,11 persen.
Responden SKDU memprakirakan kegiatan usaha pada triwulan II/2026 meningkat dengan SBT sebesar 14,80 persen. Peningkatan kegiatan usaha diprakirakan terutama bersumber dari Lapangan Usaha (LU) Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sejalan dengan berlanjutnya musim panen komoditas pangan, LU Pertambangan dan Penggalian didukung penurunan curah hujan sehingga mendorong aktivitas pertambangan, serta LU Konstruksi seiring dengan dimulainya pengerjaan sejumlah proyek. Temuan SKDU ini sejalan dengan data terbaru Prompt Manufacturing Index (PMI)-BI di triwulan I/2026.
Kinerja LU Industri Pengolahan pada triwulan I 2026 meningkat dan berada pada fase ekspansi (indeks >50 persen), tecermin dari PMI-BI triwulan I/2026 sebesar 52,03 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 51,86 persen.
Pada triwulan II/2026, kinerja LU Industri Pengolahan diprakirakan tetap berada pada fase ekspansi dan meningkat menjadi 52,26 persen. Ekspansi terutama didorong oleh Volume Produksi, Volume Persediaan Barang Jadi, dan Volume Total Pesanan. Mayoritas Sub-LU diprakirakan berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada Industri Furnitur, Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki, serta Industri Makanan dan Minuman.
Hal ini terkonfirmasi dari Hasil Survei Perbankan BI yang mengindikasikan penyaluran kredit baru pada triwulan I/2026 tetap tumbuh. Kondisi ini tecermin dari nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru sebesar 38,74 persen pada triwulan I/2026. Pertumbuhan kredit tersebut utamanya didorong oleh kredit konsumsi.
Selanjutnya pada triwulan II/2026, penyaluran kredit baru diprakirakan meningkat dengan SBT sebesar 96,65 persen. Responden survei bahkan memprakirakan outstanding kredit sampai dengan akhir tahun 2026 terus tumbuh. Kondisi tersebut antara lain ditopang oleh prospek kondisi ekonomi dan moneter yang tetap positif serta risiko dalam penyaluran kredit yang terjaga.
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

