1
1

Asing Mulai Masuk, IPOT Beberkan Rekomendasi Saham Pilihan Paling Seksi Pekan Ini

Ilustrasi. | Foto: pikisuperstar/Freepik

Media Asuransi, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di akhir pekan lalu ditutup menguat di zona hijau di level 6.007 atau menguat sebanyak 7,38 persen. Hal itu terjadi setelah di pekan sebelumnya yakni pada 5 Juni 2026 sempat melemah sebanyak 8,69 persen.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Imam Gunadi menjelaskan di awal pekan lalu IHSG memang sempat melemah. Namun berhasil di tutup di zona hijau yang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik global maupun domestik.

|Baca juga: Ekonom DBS Bongkar Alasan BI Bikin Kejutan Naikkan Suku Bunga di Luar Jadwal

|Baca juga: Harga BBM Naik Gila-gilaan, Asuransi Kendaraan Bakal Kena Getah?

Mengutip riset Indo Premier Sekuritas, Senin, 15 Juni 2026, Imam merinci faktor global ada rilis data inflasi Amerika Serikat yang naik menjadi 4,2 persen yoy pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan dengan 3,8 persen yoy pada bulan sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak April 2023.

Kenaikan inflasi terutama didorong oleh lonjakan harga energi akibat konflik yang melibatkan Iran yang turut mendorong kenaikan harga bahan bakar dan biaya transportasi. “Meskipun inflasi yang lebih tinggi berpotensi membatasi ruang pemangkasan suku bunga oleh The Fed, pasar relatif merespons data tersebut secara positif,” jelasnya.

|Baca juga: BPI Danantara Diusulkan untuk Dilibatkan Bahas Asumsi Makro Negara

|Baca juga: OJK Beberkan Biang Kerok ROI Dana Pensiun Tergerus di Awal 2026

Selanjutnya ada sentimen revisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh World Bank. Dalam laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2026, World Bank memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2026 menjadi 2,5 persen, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,6 persen.

Selain sentimen global, ada pula sentimen dari domestik, di mana Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia pada Mei 2026 turun menjadi US$144,9 miliar dari US$146,2 miliar pada bulan sebelumnya. Meski menurun, namun posisi cadangan devisa tersebut masih tergolong kuat.

|Baca juga: Bank Mestika (BBMD) Bidik Naik Kelas ke KBMI 2 Sebelum 2028

|Baca juga: Laba bersih GMFI Melonjak 78,28% dan Pendapatan Tumbuh 20,53% di Kuartal/2026

Selain itu, Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50 persen dalam rapat di luar jadwal pada 9 Juni 2026. Langkah agresif ini diambil sebagai respons langsung untuk meredam tekanan eksternal yang memicu pelemahan nilai tukar rupiah.

Proyeksi dan rekomendasi IPOT pekan ini

Berbicara tentang market pada sepekan ke depan yang akan berlangsung selama empat hari karena ada libur Tahun Baru Islam 1448 H, pelaku pasar wajib mencermati sejumlah rilis data. Terkait Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dari titik tertingginya hingga akhir pekan lalu, IHSG masih bergerak dalam tren turun (downtrend).

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Media Asuransi (@mediaasuransinews)

Hal ini terlihat dari struktur pergerakan yang masih membentuk Lower Low (LL) dan Lower High (LH). Meski demikian, penurunan IHSG dari titik tertingginya hingga pekan lalu berpotensi telah membentuk lima gelombang (impulsive wave), sehingga tekanan tren turun berpeluang mulai mereda.

|Baca juga: Purbaya Ramal Rupiah di Level Rp16.800-Rp17.500 per Dolar AS di 2027

|Baca juga: KB Bank (BBKP) Dukung Ekspansi MGM Bosco Logistics untuk Perkuat Ekosistem Rantai Dingin Nasional

“Dalam time horizon yang lebih pendek, atau sejak pertengahan April, pergerakan IHSG membentuk pola extension dan berpotensi telah menyelesaikan lima gelombang. Skenario ini akan terkonfirmasi apabila IHSG berhasil menembus level resisten di 6.286,” ujarnya.

Merespons dinamika market yang ada, IPOT merekomendasikan trading saham pada emiten-emiten berikut ini:

1. Buy on Pullback TPIA (Entry: Rp1.715–Rp1.790, Target Price (TP): Rp2.070 dan Stop Loss (SL): <Rp1.680)

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dicermati usai aksi shareholding rebalancing oleh SCG Chemicals (SCGC) yang menurunkan porsi kepemilikannya dari 29,38 persen menjadi 15,71 persen. Meski kepemilikan berkurang, namun SCGC menegaskan tetap menjadi pemegang saham strategis jangka panjang sehingga fundamental dan arah bisnis TPIA tidak berubah. Transaksi ini berdampak positif pada peningkatan porsi saham publik (free float) TPIA menjadi sekitar 25,7 persen. Peningkatan ini berpotensi meningkatkan likuiditas perdagangan saham, menarik minat investor institusi global dan produk investasi berbasis indeks, serta berpeluang memberikan valuation re-rating dalam jangka menengah.

2. Buy MNCN (Entry: Rp214, Target Price (TP): Rp230 dan Stop Loss (SL): <Rp206)

MNCN mulai bergerak sideways yang mengindikasikan tekanan jual cenderung mereda. Di sisi lain, MNCN juga memperlihatkan potensi reversal yang ditunjukkan oleh terbentuknya pola double bottom. Selain itu, pada time frame yang lebih kecil, terlihat adanya pola bullish harami yang berhasil melakukan rejection di area MA50, sehingga semakin mengonfirmasi potensi pembalikan arah dalam jangka pendek.

|Baca juga: Rogoh Rp201,98 Miliar, OCBC (NISP) Caplok 20% Saham Great Eastern Life Indónesia!

|Baca juga: Ambruk 8,69% dalam Sepekan, Mengapa Risk Premium Membebani IHSG?

3. Buy on Breakout MAPI (Entry: Rp1.525, Target Price (TP): Rp1.645 dan Stop Loss (SL): <Rp1.465)

Rekomendasi untuk saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) ini dikeluarkan menyusul adanya aksi korporasi yang signifikan di tingkat manajemen. Perusahaan mengalami perubahan pengendali baru melalui proses akuisisi saham yang bernilai fantastis. Pacific Universal Investments Pte Ltd resmi mengambil alih kepemilikan dengan mengakuisisi 51 persen saham perseroan. Nilai transaksi dari aksi akuisisi strategis ini dilaporkan mencapai Rp11,8 triliun.

4. Buy Obligasi: FR0091 (Kupon: 6,5 persen, Yield: 7,35, Est Harga: 95,45)

Obligasi pemerintah kembali menarik dicermati setelah imbal hasilnya naik mendekati area resisten, yang secara implisit mencerminkan penurunan harga obligasi. Kondisi ini membuka peluang akumulasi pada level valuasi yang lebih murah karena imbal hasil berada di titik balik pergerakan historisnya dalam beberapa tahun terakhir. Tekanan pada pasar obligasi domestik diperkirakan mulai mereda seiring stabilisasi rupiah usai kenaikan suku bunga Bank Indonesia dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Dengan terbatasnya ruang kenaikan imbal hasil ke depan, obligasi pemerintah tenor menengah hingga panjang ini berpotensi menawarkan imbal hasil menarik sekaligus peluang capital gain saat yield kembali bergerak turun.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Soal Kredit Program Pemerintah, OJK Bilang Keputusan Penyaluran Tetap di Tangan Bank
Next Post Bukit Asam (PTBA) Tebar Dividen Rp1,32 Triliun di Tengah Tantangan Industri Batu Bara

Member Login

or