1
1

 Pasar Kripto Hadapi Pekan Penuh Katalis

Ilustrasi bursa kripto. | Foto: Tokocrypto

Media Asuransi, JAKARTA – Harga Bitcoin (BTC) bergerak relatif terbatas di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap sejumlah agenda ekonomi dan kebijakan global pada pekan ini. Berdasar data pasar, Bitcoin berada di kisaran US$77.533,50, dengan pergerakan sekitar 0,21 persen dalam 24 jam terakhir.

Pergerakan tersebut terjadi setelah Bitcoin sebelumnya kembali menembus level US$78.000, namun masih menghadapi tekanan untuk mempertahankan momentum kenaikan. Pada perdagangan 15 September, BTC sempat turun hingga sekitar US$76.439 sebelum kembali bergerak di atas US$78.000.

Pelaku pasar kini mengantisipasi sejumlah agenda penting, terutama keputusan kebijakan moneter bank sentral utama serta perkembangan regulasi aset kripto di Amerika Serikat. Fokus Pasar Beralih ke Kebijakan The Fed Salah satu katalis utama pekan ini adalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September. Pasar mencermati keputusan suku bunga sekaligus proyeksi ekonomi terbaru dari Federal Reserve.

|Baca juga: Industri Soroti Arah Kebijakan Pajak Kripto dari Menkeu yang Baru

Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed juga mengalami perubahan signifikan. Berdasarkan materi pasar, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis points (bps) pada September telah meningkat hingga sekitar 87 persen. Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin. Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi membuat likuiditas menjadi lebih ketat dan meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar, sehingga dapat membatasi ruang kenaikan aset kripto dalam jangka pendek.

Namun, reaksi Bitcoin tidak hanya akan ditentukan oleh keputusan suku bunga. Pelaku pasar juga akan memperhatikan pernyataan bank sentral, proyeksi suku bunga atau dot plot, serta pandangan terhadap inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai pasar kripto saat ini berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap perkembangan makroekonomi.  “Pergerakan Bitcoin saat ini menunjukkan bahwa pasar sedang menunggu kepastian dari sejumlah katalis besar. Jadi, meskipun harga masih bertahan di area US$77.500, investor perlu melihat lebih jauh dari sekadar pergerakan harga harian. Keputusan The Fed dan arah kebijakan moneter ke depan akan menjadi faktor penting dalam menentukan bagaimana pasar merespons,” katanya dalam keterangan resmi.

|Baca juga: OJK Pantau Terus KOL yang Promosikan Aset Kripto Ilegal, Ingatkan Masyarakat Waspada!

Ditambahkan, dari sisi teknikal, level US$80.000 masih menjadi area penting bagi Bitcoin. Dalam perdagangan sebelumnya, BTC sempat mencapai sekitar US$78.276 tetapi belum mampu menembus level tersebut secara meyakinkan. Area US$80.000–US$83.000 juga menjadi salah satu zona resistance yang diperhatikan pasar.

Apabila Bitcoin mampu menembus dan mempertahankan harga di atas area tersebut, sentimen bullish berpotensi kembali menguat. Sebaliknya, apabila tekanan jual meningkat dan BTC kembali kehilangan level US$76.000–US$77.000, pasar berpotensi memasuki fase konsolidasi yang lebih dalam.

Menurut Yudho, kondisi tersebut membuat strategi investor menjadi semakin penting. “Di tengah market yang penuh katalis, pendekatan yang lebih disiplin menjadi penting. Investor perlu menentukan level risiko, memahami faktor yang bisa menggerakkan harga, dan tidak mengambil keputusan hanya karena melihat volatilitas jangka pendek. Momentum bisa berubah dengan cepat ketika keputusan bank sentral mulai keluar,” ujarnya.

Selain itu, perhatian pasar tidak berhenti pada Amerika Serikat. Bank of England (BOE) dijadwalkan mengambil keputusan kebijakan pada 17 September, sementara Bank of Japan (BOJ) akan menggelar pertemuan pada 17-18 September.

|Baca juga: Diduga Jalankan Praktik Ilegal Investasi Aset Kripto, Satgas PASTI Stop Aktivitas YWWSDC dan RTHAE

BOE saat ini mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,75 persen. Sementara itu, BOJ menargetkan suku bunga overnight call rate sekitar satu persen setelah kenaikan pada Juni. Rangkaian keputusan tersebut membuat pekan ini menjadi periode penting bagi pasar global. Perubahan ekspektasi suku bunga di Amerika Serikat, Inggris, maupun Jepang dapat mempengaruhi sentimen terhadap aset berisiko dan arus likuiditas global.

Selain kebijakan moneter, pasar kripto juga menghadapi agenda politik dan regulasi di Amerika Serikat. Senat AS dijadwalkan melakukan pemungutan suara prosedural terhadap Digital Asset Market Clarity Act (CLARITY Act) pada 15 September. Materi final CLARITY Act mencakup sejumlah ketentuan terkait regulasi aset digital, stablecoin rewards, decentralized finance (DeFi), regulasi komoditas, serta ketentuan etika pemerintahan. Hasil pemungutan suara tersebut menjadi salah satu perkembangan regulasi yang turut diperhatikan oleh pelaku industri kripto.

Dengan kombinasi katalis makroekonomi dan regulasi tersebut, Bitcoin diperkirakan masih menghadapi volatilitas hingga keputusan-keputusan utama pekan ini mulai keluar. “Bagi investor kripto, pekan seperti ini bukan hanya soal apakah Bitcoin naik atau turun. Yang lebih penting adalah memahami mengapa market bergerak dan bagaimana setiap keputusan global dapat mempengaruhi sentimen. Dengan begitu, investor bisa mengambil keputusan berdasarkan strategi, bukan sekadar mengikuti momentum,” tutur Yudho.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post OJK Ungkap Bayar Listrik Telat Bisa Jadi Pertimbangan Skor Kredit
Next Post OJK Wanti-wanti Risiko Salah Hitung Skor Kredit di Era AI

Member Login

or