1
1

Mendapat Cuan Saat Pasar Saham Sedang Bullish  

Ilustrasi. | Foto: Freepik

Media Asuransi, JAKARTA – Banyak investor memborong saham di saat harga saham sedang anjlok seperti saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami trading halt dua kali di Januari lalu. Mereka mengincar saham di harga rendah dengan harapan tidak lama harga saham pulih, langsung dijual untuk mengambil keuntungan atau profit taking.

|Baca juga: Mengkaji Peluang dan Risiko Pasar Saham Terkini

Pertanyaannya, apakah saat harga saham sedang naik atau bullish, tidak ada peluang profit taking?

Dikutip dari blog BRI Danareksa Sekuritas,  dijelaskan saat indeks saham naik, biasanya kondisi ekonomi sedang membaik — seperti inflasi terkendali, suku bunga stabil, dan laporan keuangan emiten menunjukkan pertumbuhan. Ini bisa menjadi sinyal positif untuk masuk pasar.

Dalam tren naik ini, kepercayaan investor meningkat, sehingga volume transaksi cenderung tinggi. Hal ini membuka peluang untuk mendapatkan capital gain jangka pendek.

|Baca juga: IHSG Diprediksi Rebound, BNI Sekuritas Rekomendasikan 6 Saham Pilihan Berikut

Dalam kondisi bullish, tren harga saham lebih mudah diprediksi karena mayoritas bergerak naik. Ini mengurangi risiko salah arah, terutama bagi trader teknikal.

Walaupun demikian, tren bullish juga menyimpan risiko, seperti:

  1. Harga Sudah Terlalu Tinggi (Overvalued)

Banyak saham naik karena euforia pasar, bukan karena fundamental kuat. Jika kamu membeli di harga puncak, risiko correction atau penurunan harga menjadi besar.

  1. Euforia Bisa Menyesatkan

Ketika semua orang membeli, muncul fear of missing out (FOMO). Investor pemula sering masuk tanpa analisis matang dan akhirnya rugi saat harga berbalik turun.

  1. Potensi Koreksi Tiba-Tiba

Pasar bisa berubah cepat akibat faktor eksternal seperti kebijakan bank sentral, kondisi geopolitik, atau perubahan harga komoditas.

|Baca juga: RUPST Maybank Indonesia (BNII): Bagi Dividen Rp580 Miliar hingga Rombak Jajaran Direksi dan Komisaris

Karena itu, investor saham harus melakukan langkah-langkah berikut:

  1. Fokus pada Saham Berfundamental Kuat

Pilih saham dengan kinerja keuangan solid — laba konsisten, utang terkendali, dan prospek industri positif. Hindari saham yang naik terlalu cepat tanpa alasan jelas.

  1. Gunakan Strategi Dollar Cost Averaging (DCA)

Daripada membeli sekaligus, lakukan pembelian bertahap. Dengan strategi DCA, kamu bisa meratakan harga beli dan mengurangi risiko masuk di harga terlalu tinggi.

  1. Perhatikan Valuasi Saham

Gunakan rasio seperti PER (Price to Earnings Ratio) dan PBV (Price to Book Value) untuk menilai apakah harga saham sudah terlalu mahal.

  1. Tetapkan Target dan Batas Risiko

Sebelum membeli, tentukan target profit dan stop loss. Langkah ini penting agar kamu tidak terbawa emosi saat harga berfluktuasi.

  1. Hindari FOMO

Jangan terburu-buru ikut tren atau Fear of Missing Out (FOMO) hanya karena banyak yang membeli saham tertentu. Pastikan keputusanmu berdasarkan analisis, bukan opini pasar.

Editor: Irdiya Setiawan

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Sepekan Ditutup di Zona Hijau

Member Login

or