Media Asuransi, JAKARTA – PT Buana Finance Tbk (BBLD) mengungkapkan rasio pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financing (NPF) naik menjadi sebesar 3,12 persen pada akhir 2025 dibandingkan dengan posisi 2024 yang sebesar 1,97 persen.
“Kondisi makroekonomi yang belum sepenuhnya pulih masih memberikan pengaruh terhadap kinerja perseroan,” ujar Direktur Pemasaran Buana Finance Herman Lesmana, dalam Public Expose, Senin, 18 Mei 2026.
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
|Baca juga: Allianz Indonesia Sebut Kehati-hatian Jadi Kunci Investasi di Tengah Realitas Baru 2026
Herman menuturkan kenaikan rasio kredit bermasalah tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan laba bersih perusahaan. Sepanjang 2025, Buana Finance membukukan laba bersih sebesar Rp13,48 miliar, turun tajam jika dibandingkan dengan laba perusahaan yang mencapai Rp66,07 miliar di 2024.
“Penurunan laba bersih tersebut terutama dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal, termasuk peningkatan beban penyisihan kerugian penurunan nilai sebesar 44,71 persen,” kata Herman.
Meski kualitas pembiayaan mengalami tekanan, namun perusahaan tetap mencatat pertumbuhan penyaluran pembiayaan baru. Pada segmen pembiayaan konsumen, penyaluran pembiayaan baru mencapai Rp3,11 triliun, sedangkan pembiayaan di segmen sewa pembiayaan dan anjak piutang sebesar Rp1,18 triliun.
|Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, DPR Sentil BI
|Baca juga: Rupiah Ambruk, Legislator Blak-blakan Minta Gubernur BI Mengundurkan Diri
Sejalan dengan itu, total aset perseroan per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp7,15 triliun atau tumbuh 7,72 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar Rp6,63 triliun. Pertumbuhan aset terutama ditopang peningkatan piutang pembiayaan dari Rp6,14 triliun menjadi Rp6,57 triliun.
Herman mengatakan perusahaan terus melakukan langkah mitigasi risiko untuk menjaga kualitas aset di tengah kenaikan pembiayaan bermasalah. “Perseroan terus melakukan langkah mitigasi risiko serta optimalisasi strategi penagihan guna menjaga kualitas aset,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

