1
1

Bos Buana Finance (BBLD) Waspadai Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Industri Multifinance

Direktur Pemasaran Buana Finance Herman Lesmana. | Foto: Media Asuransi/Muh Fajrul Falah

Media Asuransi, JAKARTA – PT Buana Finance Tbk (BBLD) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga profitabilitas dan kualitas pembiayaan di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS).

Perseroan mengaku tetap waspada terhadap potensi kenaikan biaya dana atau Cost of Fund (CoF) di industri multifinance akibat gejolak kurs dan kondisi ekonomi global.

|Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, DPR Sentil BI

|Baca juga: Rupiah Ambruk, Legislator Blak-blakan Minta Gubernur BI Mengundurkan Diri 

Direktur Pemasaran Buana Finance Herman Lesmana mengatakan perseroan masih relatif aman dari risiko ketidaksesuaian mata uang atau mismatch karena seluruh pembiayaan perusahaan menggunakan basis rupiah. Sumber pendanaan yang diperoleh perusahaan juga didominasi mata uang rupiah.

“Memang kami pembiayaannya berbasis rupiah. Kami juga mendapatkan pendanaan cost of fund dalam rupiah sehingga tidak akan terjadi mismatch,” ujar Herman, dalam Public Expose, Senin, 18 Mei 2026.

Meski demikian, Herman mengakui, tekanan pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian perusahaan, khususnya terhadap efisiensi operasional dan strategi menjaga margin pembiayaan. Untuk itu, Buana Finance mulai lebih selektif membidik segmen pembiayaan yang dinilai memiliki tingkat margin lebih baik.

Salah satu segmen yang menjadi fokus perseroan ialah refinancing. Menurut Herman, produk tersebut masih menawarkan pricing yang lebih kompetitif dibandingkan dengan segmen lainnya, namun perusahaan tetap berhati-hati dalam menentukan bunga kepada nasabah.

|Baca juga: Semen Indonesia (SMGR) Bagikan Dividen Tunai Rp190,8 Miliar, Cek Jadwal Lengkapnya

|Baca juga: Premi Reasuransi Masih Banyak yang Lari ke Luar Negeri, Begini Respons AAUI

Ia menjelaskan penetapan pricing dilakukan secara realistis dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan kualitas aset jaminan. Faktor seperti tahun kendaraan hingga nilai pembiayaan menjadi dasar perusahaan dalam melakukan segmentasi risiko dan diferensiasi suku bunga.

“Kami akan melihat secara realistis dan relevan untuk melihat pasar berapa yang bisa kami berikan karena tergantung juga dari unit jaminannya, tahun rakitan berapa, kemudian juga besarannya. Jadi segmentasinya pasti ada pricing diferensiasi,” kata Herman.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Media Asuransi (@mediaasuransinews)

Selain refinancing, Buana Finance juga memperkuat lini usaha syariah melalui skema Business to Business (B2B). Perseroan menilai pembiayaan antarkorporasi memiliki risiko yang lebih terukur sehingga dapat membantu menjaga kualitas aset pembiayaan di tengah ketidakpastian ekonomi.

Herman menyebut pada unit usaha syariah perseroan menggunakan akad ijarah dengan skema margin yang telah disepakati sejak awal antara perusahaan dan nasabah. Dengan model tersebut, perusahaan dapat menjaga tingkat pengembalian tetap stabil tanpa membebankan margin yang terlalu tinggi kepada pelanggan.

|Baca juga: Hantavirus Hantui Indonesia, Bos AAUI: Orang Indonesia Tidak Tipikal Panic Buying Proteksi

|Baca juga: Bukalapak (BUKA) Blak-blakan Ungkap Alasan PHK Besar-besaran pada 2025

“Nah, inilah yang kami bidik adalah perusahaan supaya kualitasnya tetap terjaga dan termitigasi. Jadi memang daya kemampuannya ada,” ujarnya.

Direktur Keuangan Buana Finance Mariana Setyadi menambahkan perusahaan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam memperoleh pendanaan, terutama apabila terdapat pinjaman dalam mata uang asing.

Menurut Mariana, perusahaan akan melakukan lindung nilai penuh atau full hedging terhadap risiko nilai tukar dan suku bunga guna menjaga stabilitas keuangan perusahaan dari volatilitas pasar.

|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan

|Baca juga: Allianz Indonesia Sebut Kehati-hatian Jadi Kunci Investasi di Tengah Realitas Baru 2026

“Jika kita memperoleh utang dalam mata uang asing, dari sisi manajemen risiko tentunya akan melakukan full hedging terkait currency dan interest rate untuk menjaga volatilitas dari currency dan interest rate tersebut,” tutup Mariana.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Kinerja Buana Finance (BBLD) Tertekan, NPF Naik Jadi 3,12% di 2025
Next Post Buana Finance (BBLD) Ungkap Strategi Jaga Portofolio di Tengah Gejolak Ekonomi

Member Login

or