1
1

Rupiah Ambruk, Legislator Blak-blakan Minta Gubernur BI Mengundurkan Diri

Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio. | Foto: Media Asuransi/Muh Fajrul Falah

Media Asuransi, JAKARTA – Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio melontarkan kritik tajam terhadap kinerja Bank Indonesia (BI) di tengah rupiah yang terus melemah. Dalam rapat bersama BI, Primus bahkan secara terbuka menyinggung opsi pengunduran diri Gubernur BI sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kondisi ekonomi saat ini.

Menurut Primus, langkah mundur bukan bentuk penghinaan, melainkan sikap kesatria apabila seorang pejabat merasa gagal menjalankan tugasnya dengan baik. Ia menilai budaya tanggung jawab seperti itu lazim terjadi di sejumlah negara maju.

|Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, DPR Sentil BI

“Mungkin saatnya sekarang Bapak (Gubernur BI Perry Warjiyo) mengundurkan diri. Tidak ada salahnya, selanjutnya terserah Bapak tentu saja. Tapi itu bukan sikap penghinaan Pak. Anda akan lebih dihormati seperti di Korea atau di Jepang, kalau Anda tidak bisa melakukan tugas dengan baik seperti itu,” kata Primus dalam rapat.

Pernyataan itu disampaikan setelah Primus menyoroti anomali ekonomi Indonesia. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,61 persen, namun di sisi lain nilai tukar rupiah justru terus melemah hingga berada di level terendah terhadap dolar Amerika Serikat.

Ia menyoroti kondisi pasar saham domestik yang dinilai tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Menurutnya, mayoritas indeks global mulai pulih usai gejolak perang rudal pada akhir Februari, sementara pasar Indonesia masih terkoreksi lebih dari 20 persen.

|Baca juga: Semen Indonesia (SMGR) Bagikan Dividen Tunai Rp190,8 Miliar, Cek Jadwal Lengkapnya

|Baca juga: Premi Reasuransi Masih Banyak yang Lari ke Luar Negeri, Begini Respons AAUI

Primus menilai kondisi tersebut memunculkan pertanyaan global terhadap kualitas dan kredibilitas bank sentral Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ia menegaskan pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap berbagai mata uang utama dunia.

Dirinya menyebut rupiah mengalami tekanan terhadap dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, dolar Hong Kong, hingga euro. Bahkan, ia membandingkan kurs euro pada awal 2006 yang disebut masih berada di kisaran Rp7.000 per euro, sedangkan kini mendekati Rp20.000 per euro.

|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan

|Baca juga: Allianz Indonesia Sebut Kehati-hatian Jadi Kunci Investasi di Tengah Realitas Baru 2026

“Menurut saya pribadi, Bank Indonesia saat ini sudah menghilangkan trust. Bank Indonesia sudah menyampingkan kredibilitasnya,” ujar Primus, dalam rapat tersebut, Senin, 18 Mei 2026.

Menurutnya, BI tidak bisa terus berdiam diri melihat kondisi tersebut. Ia meminta pimpinan bank sentral bersikap lebih tegas dan berani menjelaskan penyebab melemahnya rupiah di tengah pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi.

Di akhir pernyataannya, Primus turut mengutip hadis yang menyebut bahwa apabila suatu urusan diserahkan kepada pihak yang bukan ahlinya maka kehancuran tinggal menunggu waktu. “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post OJK Izinkan Perubahan Nama PT Jaya Proteksindo Sakti menjadi PT Jaya Proteksindo Sakti Ins Broker
Next Post Survei Penjualan Eceran BI: Penjualan Eceran Diprakirakan Terjaga

Member Login

or