1
1

DPK Citi Tumbuh Lebih Kencang ketimbang Kredit, Ini Penjelasan Manajemen

Gedung Citi. | Foto: Citi Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) Citi Indonesia pada semester I/2026 melaju jauh lebih kencang dibandingkan dengan penyaluran kredit. DPK tumbuh 23,29 persen secara tahunan menjadi Rp72,6 triliun, sementara kredit tumbuh 8,05 persen menjadi Rp29,9 triliun.

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan tingginya pertumbuhan DPK Citi tidak terlepas dari karakter bisnis perseroan yang banyak melayani perusahaan multinasional. Sekitar 80-90 persen DPK Citi berasal dari bisnis tersebut.

“Itu adalah mungkin the uniqueness daripada Citi ya. Sekitar 80-90 persen daripada DPK kami itu datangnya dari multinational business,” ujar Batara dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026.

Menurut Batara, sumber dana tersebut berasal dari perusahaan multinasional Amerika Serikat, Eropa, hingga Asia. Citi juga memiliki sejumlah koridor bisnis Asia, seperti China, Taiwan, Korea, dan Jepang.

|Baca juga: BI Siapkan Jurus Jaga Rupiah dan Kredit hingga Akhir 2026, Begini Caranya!

|Baca juga: Bos BI Beberkan Sejumlah Strategi di Balik Penguatan Rupiah

Aliran investasi dari perusahaan-perusahaan multinasional tersebut turut mendorong pertumbuhan DPK, terutama dari investasi pusat data (data center). “Itu yang aliran-aliran daripada investasi itu cukup deras ya, utamanya investasi untuk data center ya, sehingga banyak masuk kepada DPK ya,” ujarnya.

Pertumbuhan DPK juga ditopang kenaikan giro sebesar 36,54 persen menjadi Rp60,4 triliun. Kondisi ini membuat rasio low-cost fund Citi naik menjadi 83,23 persen dari 75,16 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, penyaluran kredit Citi tetap tumbuh positif. Kredit naik 8,05 persen secara tahunan dan 11,05 persen dibandingkan dengan posisi akhir 2025 menjadi Rp29,9 triliun.

Memasuki semester II/2026, Citi masih memiliki pipeline kredit sekitar Rp5 triliun. Sekitar 60 persen di antaranya berasal dari segmen korporasi lokal, sementara sisanya berasal dari bisnis multinasional, commercial banking, dan peluang trade loan.

“Jadi untuk semester kedua ini pipeline, our pipeline is very very strong dan kita harapkan ini akan juga mendongkrak performance untuk semester yang kedua,” kata dia.

Batara memperkirakan pertumbuhan kredit dan DPK pada semester II/2026 berada di level high single digit. Perseroan berharap realisasinya dapat lebih baik dibandingkan dengan target dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) yang telah disampaikan kepada regulator.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Destry Maju Jadi Gubernur BI, Ini Pesan Bos Citi untuk Kebijakan Bank Sentral
Next Post E-Commerce Indonesia Masuki Fase Baru Pertumbuhan yang Lebih Berdampak

Member Login

or