Media Asuransi, JAKARTA – HSBC Tiongkok meluncurkan fasilitas kredit senilai US$4 miliar untuk mendukung ekspansi perusahaan energi bersih dan rendah karbon asal China ke pasar internasional, termasuk Indonesia dan negara-negara ASEAN.
Indonesia menjadi salah satu target utama pendanaan tersebut, terutama untuk proyek energi terbarukan, transportasi elektrik, pusat data, hingga pengembangan kecerdasan buatan (AI).
|Baca juga: Mirae Asset Sekuritas Sebut Rebound IHSG Masih Rapuh, Ternyata Ini Alasannya!
|Baca juga: IHSG Berpotensi Terkoreksi, BNI Sekuritas Sarankan 6 Saham Pilihan Ini untuk Investor
Fasilitas bertajuk ‘Sustainability and Transition Credit Facility’ itu disiapkan untuk memberikan pembiayaan kepada perusahaan-perusahaan China yang bergerak di sektor rendah karbon dan ingin memperluas bisnisnya ke luar negeri.
Presiden Direktur HSBC Indonesia Stuart Rogers mengatakan Indonesia memiliki kebutuhan pendanaan yang besar untuk mendukung target transisi energi hingga 2030.
“Transisi energi di Indonesia merupakan salah satu peluang investasi energi bersih terbesar di kawasan, dan skala pembiayaan yang dibutuhkan untuk memenuhi target 2030 sangat signifikan,” ujar Stuart, dalam keterangan resmi, dikutip Jumat, 29 Mei 2026.
Menurut dia, HSBC berada pada posisi strategis untuk menghubungkan kebutuhan investasi Indonesia dengan perusahaan energi bersih global, termasuk dari China. “Fasilitas kredit ini memperkuat kemampuan kami untuk melakukan hal tersebut,” katanya.
|Baca juga: Bos Allianz Syariah: Iduladha Mengajarkan Arti Amanah dan Berbagi Manfaat untuk Sesama
|Baca juga: Citi Indonesia: Kesempatan Kerja untuk Perempuan dan Disabilitas Perlu Dibuka Lebar
Peluncuran fasilitas kredit tersebut dilakukan di tengah meningkatnya kerja sama ekonomi hijau antara China dan negara-negara ASEAN. Kesepakatan ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 Upgrade Protocol yang diteken pada Oktober 2025 juga memperluas kerja sama ke sektor ekonomi hijau, ekonomi digital, dan rantai pasok.
View this post on Instagram
HSBC menilai Indonesia menjadi pasar dengan potensi investasi energi bersih terbesar di Asia Tenggara. Berdasarkan dokumen Comprehensive Investment and Policy Plan (CIPP) dalam skema Just Energy Transition Partnership (JETP), kebutuhan pendanaan Indonesia untuk mencapai target iklim 2030 diperkirakan mencapai US$97 miliar.
Di sisi lain, pemerintah meningkatkan target pengembangan energi baru terbarukan melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025. Dalam dokumen tersebut, Indonesia menargetkan tambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 42.569 megawatt (MW) hingga 2034.
|Baca juga: Bank Mandiri (BMRI) Cetak Laba Bersih Rp18,1 Triliun per April 2026
|Baca juga: Catat! Ini Jadwal Operasional Cabang BCA saat Libur Iduladha dan Waisak
HSBC menyebut fasilitas pembiayaan tersebut akan digunakan untuk mempercepat penyaluran teknologi dan solusi energi bersih dari China ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Global Head of Sustainable Finance and Transition HSBC Natalie Blyth mengatakan perusahaan rendah karbon asal China kini menjadi salah satu pemain utama dalam rantai pasok transisi energi global.
“Seiring perusahaan berkembang secara internasional, mereka membutuhkan mitra finansial dengan jangkauan global dan keahlian untuk mendukung mereka,” ujar Natalie.
Melalui fasilitas tersebut, HSBC juga akan memberikan perluasan limit kredit, penyederhanaan proses persetujuan kredit, serta menyiapkan solusi pembiayaan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

