1
1

Cuaca Makin Tak Menentu, Tugu Sebut Premi Asuransi Bisa Ikut Terkerek Dampak Perubahan Iklim

Technical Director PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) Fadlil Iswahyudi. | Foto: Media Asuransi/Muh Fajrul Falah

Media Asuransi, JAKARTA – PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) atau Tugu Insurance menilai perubahan iklim mulai memengaruhi cara industri asuransi menghitung risiko. Kondisi tersebut berpotensi mendorong penyesuaian tarif premi karena peluang terjadinya bencana dinilai semakin besar dan sulit diprediksi.

Technical Director Tugu Insurance Fadlil Iswahyudi mengatakan selama ini perhitungan premi mengacu pada data historis dan proyeksi risiko di masa depan. Namun, perubahan pola cuaca membuat pendekatan tersebut perlu disesuaikan agar perusahaan tetap mampu mengantisipasi potensi klaim.

|Baca juga: OJK Bawa Kabar Baik, Kinerja Intermediasi Perbankan Terus Menguat!

|Baca juga: Bank Mega Syariah Catat Pembiayaan Komersial Capai Rp5,9 Triliun hingga Juni 2026

“Kalau dulu kita bisa memprediksi pola musim dengan cukup jelas, sekarang kondisinya sudah berubah. Karena itu, proyeksi risiko ke depan tidak bisa lagi sepenuhnya mengacu pada histori yang lama,” ujar Fadlil, dalam Media Meet Up di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.

Menurut dia, kenaikan suhu global menjadi salah satu indikator yang mengubah profil risiko. Dampaknya terlihat dari meningkatnya potensi kejadian cuaca ekstrem, kebakaran hutan, hingga bencana lain yang berpotensi memicu lonjakan klaim di industri asuransi.

Fadlil menjelaskan perubahan tersebut membuat perusahaan harus menambah cadangan risiko dalam perhitungan premi. Dengan begitu, besaran premi ke depan bisa lebih tinggi dibandingkan dengan perhitungan berdasarkan kondisi sebelumnya.

|Baca juga: Siap-siap, OJK Bidik Aturan New RBC Terbit Sebelum Akhir 2026!

|Baca juga: Paylater Makin Nempel di Gaya Hidup Anak Muda, Ini Kata OJK!

“Kalau sebelumnya suatu risiko dihitung dengan premi 100, ke depan mungkin tidak lagi cukup. Harus ada penyesuaian karena prediksi kerugian yang akan terjadi juga meningkat,” katanya.

Ia menambahkan perubahan iklim tidak hanya meningkatkan frekuensi bencana, tetapi juga dapat memperbesar dampak kerugiannya. Curah hujan yang lebih ekstrem setelah musim kemarau panjang, misalnya, berpotensi meningkatkan risiko banjir dan kerusakan aset.

|Baca juga: QR Code Jadi Senjata Baru OJK Berantas Pialang Asuransi Ilegal

|Baca juga: Paylater Bank Tembus Rp30,71 Triliun, OJK Sebut Prospeknya Masih Cerah!

Karena itu, Tugu terus memperbarui model analisis risiko dengan mempertimbangkan perkembangan iklim global. Langkah tersebut dilakukan agar perhitungan premi tetap sejalan dengan potensi kewajiban pembayaran klaim di masa mendatang.

“Kuncinya adalah menjaga keseimbangan antara aset yang kita miliki dengan prediksi kewajiban yang akan muncul. Ketika profil risikonya berubah akibat perubahan iklim maka cara menghitungnya juga harus ikut berubah,” tutup Fadlil.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Merger Asuransi BUMN Belum Final, Tugu Insurance (TUGU) Ungkap Penyebabnya!
Next Post Bank QNB Indonesia (BKSW) Resmi Rombak Jajaran Komisaris

Member Login

or