1
1

Kenapa Gen Z Belum Kepincut Asuransi? Begini Penjelasan dari LPS

Ilustrasi. | Foto: LPS

Media Asuransi, MAKASSAR – Anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Bidang Program Penjaminan Polis Ferdinan D. Purba menyoroti rendahnya minat generasi Z terhadap produk asuransi.

Salah satu faktor yang dinilai menjadi penghambat adalah penggunaan istilah dan penjelasan produk yang terlalu rumit sehingga sulit dipahami oleh generasi muda.

|Baca juga: Berikut Daftar Lengkap Calon Anggota Direksi BEI Masa Jabatan 2026-2030

|Baca juga: Volatilitas Masih Tinggi di Paruh Kedua 2026, DBS: Peluang Strategis Tetap Terbuka bagi Investor Jangka Panjang

Menurut Ferdinan, tantangan tersebut perlu mendapat perhatian serius mengingat dalam dua dekade mendatang generasi Z akan menjadi kelompok yang memegang peran penting di industri keuangan maupun regulator.

“Kenapa Gen Z ini kita perhitungkan sekarang? Karena 20-25 tahun lagi mereka ini akan menjadi CEO-CEO di perusahaan asuransi. 20-25 tahun lagi mereka ini akan menjadi pejabat-pejabat penting di OJK, juga mereka ini akan menjadi anggota DPR,” ujar Ferdinan dalam Indonesia Actuaries Summit (IAS) 2026 di Makassar, belum lama ini.

Ia mengatakan sejumlah studi di negara maju menunjukkan pemahaman generasi Z terhadap produk asuransi masih menjadi tantangan, meski tingkat literasi keuangan di negara tersebut relatif tinggi.

Berdasarkan survei Insurtech 2022 di Amerika Serikat (AS), sebanyak 26 persen responden dari generasi Z tidak melanjutkan proses klaim karena proses digital yang dinilai terlalu rumit. Selain itu, satu dari empat responden memilih berpindah perusahaan asuransi akibat pengalaman digital yang buruk.

“48 persen responden Gen Z di 18 negara belum cukup memahami produk untuk membeli dengan percaya diri,” kata Ferdinan.

|Baca juga: Bank DBS Indonesia Komitmen Hadirkan Insights Tajam untuk Investasi Personal

|Baca juga: OJK: AI Hanya Alat Bantu, Tanggung Jawab Aktuaris Tetap Melekat pada Manusia

Ferdinan mengaku belum menemukan data spesifik mengenai perilaku generasi Z di Indonesia. Namun, dari sejumlah diskusi yang pernah dilakukan dengan kelompok usia tersebut, terdapat kesamaan persoalan dengan temuan di luar negeri.

Ia menyebut istilah yang digunakan dalam industri asuransi kerap dianggap terlalu rumit sehingga membuat generasi muda kehilangan minat untuk mempelajari maupun membeli produk asuransi.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Media Asuransi (@mediaasuransinews)

“Yang pertama yang sangat menonjol itu adalah istilah-istilah yang digunakan di dalam asuransi itu rumit,” ujarnya.

Menurut dia, karakteristik generasi Z yang menginginkan informasi singkat dan mudah dipahami menjadi tantangan tersendiri bagi industri asuransi dalam membangun literasi dan memperluas penetrasi pasar.

Ferdinan mengatakan generasi Z memiliki rentang perhatian yang terbatas ketika mengambil keputusan sehingga penyampaian informasi produk harus dibuat lebih sederhana dan relevan dengan kebutuhan mereka.

“Kalau dalam 300 karakter dia tidak bisa memutuskan dia mau beli atau nggak, dia tinggal,” ucapnya.

Di sisi lain, Ferdinan menilai, perkembangan AI yang semakin pesat membuat industri asuransi harus bergerak lebih cepat dalam meningkatkan kualitas komunikasi dengan generasi muda. Sebab, tingkat literasi generasi Z terhadap AI berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan literasi mereka terhadap produk keuangan.

|Baca juga: OJK Ungkap Masih Ada 7 Perusahaan Asuransi Belum Punya Aktuaris

|Baca juga: Mirae Asset Sekuritas Sebut BI Punya Ruang untuk Lanjutkan Kenaikan Suku Bunga Acuan

“Saya pikir ada dampak yang sangat besar bagaimana tingkat literasi Gen Z ini ke sektor keuangan dibanding tingkat literasi mereka di AI. Tingkat literasi mereka di AI itu sangat-sangat pesat, ini tugas kita yang berat untuk catch up itu,” kata dia.

Menurut Ferdinan, kondisi tersebut membuka ruang yang besar bagi profesi aktuaris untuk berkontribusi lebih luas dalam industri asuransi. Sebab, aktuaris merupakan pihak yang terlibat sejak awal dalam perancangan produk sehingga memiliki peran penting dalam menghadirkan produk yang lebih mudah dipahami masyarakat.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post LPS Wanti-wanti Ancaman AI Colonialism di Industri Keuangan, Apa Itu?
Next Post IHSG Diramal Sideways, BNI Sekuritas Sarankan 6 Saham Pilihan Berikut

Member Login

or