Media Asuransi, JAKARTA – Head of Investment & Insurance Product Bank DBS Indonesia Djoko Soelistyo mengatakan 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi pasar global. Hal itu akibat tingginya ketidakpastian, penyesuaian suku bunga, dan persaingan yang semakin ketat.
“Memasuki paruh kedua 2026, volatilitas diperkirakan tetap tinggi, namun peluang strategis masih terbuka bagi investor berorientasi jangka panjang,” kata Djoko, di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.
|Baca juga: DBS: Suku Bunga Acuan Terlalu Tinggi Bisa Membebani Masyarakat dan Tekan Profit Perusahaan
|Baca juga: Bank Mega Syariah Jaga Momentum Pertumbuhan Pembiayaan Produktif di Tengah Penguatan Dolar AS
Dalam kondisi pasar yang kompleks ini, tambahnya, CIO Office DBS mengedepankan pendekatan conviction-led yang berfokus pada strategi diversifikasi investasi dan dapat ditindaklanjuti. Sementara ketidakpastian global masih dipengaruhi oleh kebijakan perdagangan, dinamika geopolitik, serta inflasi yang bertahan di atas target The Fed.
Di Amerika Serikat, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada Maret 2026 tercatat 3,5 persen YoY, lebih tinggi dari target Federal Reserve sebesar dua persen, sehingga suku bunga diperkirakan tetap tinggi lebih lama.
View this post on Instagram
Di tengah tekanan eksternal tersebut, ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan 5,61 persen YoY pada kuartal I/2026, sehingga membuka peluang bagi investor untuk membangun portofolio terdiversifikasi melalui kombinasi aset defensif dan aset pertumbuhan.
View this post on Instagram
Salah satu strategi utama investasi dari CIO Office DBS adalah mempertahankan posisi overweight pada emas sebagai instrumen defensif. Hal ini didukung oleh lonjakan permintaan investasi emas global secara nilai sebesar 74 persen YoY pada kuartal I/2026, sementara permintaan emas batangan di Indonesia meningkat 47 persen.
|Baca juga: Tenang, OJK Bilang Konsolidasi Asuransi BUMN Tak Kurangi Serapan Tenaga Aktuaris
|Baca juga: Bank Sentral Kembali Naikkan BI-Rate 25 Bps Jadi 5,75%, Berikut Alasan Lengkapnya!
Sejalan dengan pandangan tersebut, Bank DBS Indonesia menjadi bank pertama yang menyediakan akses ke pasar emas global melalui Kontrak Pengelolaan Dana (KPD) dengan minimum investasi Rp5 miliar.
|Baca juga: OCBC: Digitalisasi Bantu Dorong Inklusivitas Wealth Management di Indonesia
|Baca juga: Gojek dan Yayasan GoTo Merah Putih Berikan Beasiswa S1 untuk Ratusan Mitra Driver dan Keluarga
Lebih dari itu, Bank DBS Indonesia terus melanjutkan pertumbuhan yang tangguh didukung oleh 16 produk investasi baru yang telah dikurasi untuk memperkuat ketahanan portofolio nasabah sekaligus memperluas pilihan investasi yang relevan dalam berbagai kondisi pasar.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

