Media Asuransi, JAKARTA – Kerugian ekonomi akibat bencana alam di dunia sepanjang semester I/2026 turun menjadi US$111 miliar. Meski demikian, nilai klaim yang ditanggung industri asuransi tetap tinggi yaitu mencapai sekitar US$47 miliar.
Melansir laman Insurance Asia, Senin, 27 Juli 2026, laporan Global Catastrophe Recap: First Half of 2026 dari Aon mencatat kerugian ekonomi global tersebut menjadi yang terendah untuk periode semester pertama sejak 2018. Nilainya juga 25 persen lebih rendah dari rata-rata abad ke-21 yang mencapai US$149 miliar.
“Kerugian yang ditanggung industri asuransi global diperkirakan mencapai US$47 miliar selama periode tersebut, atau relatif sejalan dengan rata-rata jangka panjang US$46 miliar. Sedikitnya terdapat 13 peristiwa bencana yang masing-masing menimbulkan kerugian yang diasuransikan sedikitnya US$1 miliar,” ujarnya.
Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, tercatat 23 bencana menimbulkan kerugian ekonomi di atas US$1 miliar. Amerika Serikat menjadi penyumbang kerugian terbesar, dipicu rangkaian badai hebat dan cuaca ekstrem saat musim dingin.
Nilai klaim asuransi di Amerika Serikat (AS) mencapai sekitar US$36 miliar atau setara 77 persen dari total klaim global. Angka tersebut juga 26 persen lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata jangka panjang negara tersebut.
|Baca juga: Asuransi Maximus Graha (ASMI) Bakal Buyback Saham hingga Rp17,9 Miliar, Ini Tujuannya!
Di sisi lain, kawasan Asia-Pasifik justru mencatat kerugian ekonomi yang relatif rendah. Namun, Aon mengingatkan fenomena El Niño-Southern Oscillation (ENSO) masih menjadi faktor utama yang membentuk risiko bencana di kawasan, terutama di India dan Australia.
Di India, sekitar 70 persen curah hujan tahunan bergantung pada musim monsun barat daya. Pada Juni 2026, curah hujan nasional tercatat 32 persen di bawah normal, bahkan mencapai 91 persen di bawah normal di wilayah barat laut.
Meski El Niño diperkirakan mengurangi curah hujan selama musim panas, namun fenomena tersebut juga berpotensi memicu hujan ekstrem dalam waktu singkat. Kondisi itu meningkatkan risiko bencana di wilayah tengah dan barat semenanjung India.
|Baca juga: Perry Warjiyo Resign, Destry Damayanti Ditunjuk Jadi Gubernur BI Sementara!
Sementara di Australia, ENSO menjadi pola iklim utama yang memengaruhi curah hujan di bagian timur. Saat El Niño terjadi, peluang munculnya kondisi kering sekitar 2,6 kali lebih besar dibandingkan dengan kondisi normal.
Gempa bumi yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni menjadi bencana paling mahal pada semester I/2026. Peristiwa itu diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi sebesar US$20 miliar hingga US$30 miliar dan menewaskan lebih dari 4.800 orang.
Gelombang panas yang melanda Eropa pada akhir Juni juga menjadi salah satu bencana paling mematikan. Sedikitnya 15 negara memecahkan rekor suhu tertinggi pada Juni, dengan temperatur di beberapa wilayah menembus 40 derajat Celsius.
Secara keseluruhan, sedikitnya 16.200 orang meninggal akibat bencana alam di dunia selama semester I/2026. Angka tersebut turun 56 persen dibandingkan dengan rata-rata abad ke-21, dengan sebagian besar korban berasal dari gelombang panas di Eropa dan gempa bumi di Venezuela.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
