Media Asuransi, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan pertumbuhan PDB Indonesia beberapa waktu lalu. Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai bahwa sudah ada perbaikan namun belum semua masalah terselesaikan.
Di satu sisi, fundamental makro dan korporasi terlihat resilien, tidak seburuk yang diperkirakan sebelumnya. Ekonomi tetap tumbuh, inflasi masih terkendali, rupiah mulai menunjukkan stabilisasi, dan mayoritas laporan laba emiten sesuai atau bahkan melebihi ekspektasi.
Menurut Chief Investment Officer-Equity MAMI, Samuel Kesuma, kombinasi ini menjadi fondasi yang lebih kokoh untuk pasar saham dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Di lain pihak, ada tambahan tantangan yang masih harus kita lewati dan selesaikan, seperti volatilitas harga energi, sinyal hawkish The Fed dan potensi dolar AS yang terus kuat, serta risiko El Niño.
|Baca juga: Perang Iran-AS Picu Harga Minyak Dekati US$100 Per Barel, IHSG Suram
“Selain itu, pemulihan kepercayaan investor juga masih menjadi ‘pekerjaan rumah’ yang harus diselesaikan. Persepsi risiko memang membaik, tetapi investor masih perlu melihat konsistensi kebijakan, kualitas tata kelola, kepastian regulasi, serta perkembangan peninjauan MSCI,” kata Samuel dalam keterangan resmi.
Lebih lanjut dia jelaskan bahwa inflasi Agustus 2026 naik menjadi 3,19 persen year on year (yoy), tetapi masih berada dalam koridor target Bank Indonesia (BI) dan jauh lebih terkendali dibandingkan episode tekanan energi pada 2022. Kebijakan mempertahankan harga BBM Bersubsidi serta kondisi produksi pangan yang relatif terjaga membantu membatasi transmisi kenaikan harga energi ke inflasi domestik.
|Baca juga: Ulasan MAMI: Stabilitas dan Konsistensi Kebijakan Menjadi Harapan Penopang Kinerja Pasar
“Untuk pasar saham, tentu saja inflasi yang terkendali membantu menjaga daya beli, margin perusahaan, dan juga ekspektasi arah suku bunga. Namun, fenomena El Niño menjadi faktor baru yang kompleks dan harus direspons seksama. Tingginya harga energi dan El Niño yang kuat dapat menurunkan hasil produksi, kenaikan biaya pengolahan, kenaikan harga pangan dan sebagainya. Kami akan sangat mencermati kemampuan dan fleksibilitas perusahaan melakukan penyesuaian harga, efisiensi biaya, serta menjaga volume penjualan,” jelas Samuel.
Sementara itu, stabilitas rupiah dinilai penting bagi pasar saham karena dapat menurunkan persepsi risiko dan meningkatkan kepercayaan investor asing. Rupiah yang lebih stabil juga membantu meredam tekanan biaya impor dan beban utang valuta asing, sehingga berdampak positif bagi kinerja korporasi.
“Kami menyambut baik arah kebijakan BI dalam Rapat Dewan Gubernur terakhir. Selain mempertahankan BI Rate untuk tetap mendukung pertumbuhan, BI terlihat mulai mengurangi ketergantungan pada imbal hasil SRBI yang tinggi dan beralih menuju bauran kebijakan yang lebih seimbang, termasuk melalui insentif swap lindung nilai,” tuturnya.
Samuel menambahkan, jika pendekatan ini mampu menjaga stabilitas rupiah dan daya tarik aset domestik sekaligus mengurangi tekanan suku bunga, dampaknya akan semakin positif bagi valuasi pasar saham. Namun, pasar tetap akan mencermati efektivitas dan konsistensi implementasinya, serta perkembangan kebijakan global, khususnya arah kebijakan The Fed.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
