1
1

MAMI: Lebih Agresif Apabila Perbaikan Fundamental Mulai Diikuti Pemulihan Kepercayaan Pasar

Karyawan melintas di depan logo perusahaan di kantor MAMI, Jakarta. | Foto: MAMI

Media Asuransi, JAKARTA – Laporan laba emiten semester pertama 2026 tidak seburuk yang ditakutkan. Laporan laba perusahaan mulai mencerminkan perbaikan fondasi dunia usaha. Di kuartal kedua, sekitar 78 persen emiten membukukan laba sesuai atau melampaui ekspektasi, komposisi terbaik dalam dua tahun terakhir.

Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menilai bahwa perbaikan juga semakin meluas, dengan kejutan positif pada pendapatan di sektor consumer staples, ritel, telekomunikasi, digital, otomotif, dan semen, didukung oleh tren harga jual dan volume yang lebih baik. Namun, perbaikan fundamental tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi pasar.

“Arus dana asing masih tersendat, sedangkan investor global tetap berhati-hati terhadap risiko kebijakan dan menunggu hasil peninjauan MSCI November mendatang. Artinya, pertumbuhan laba telah memperkuat downside protection, tetapi re-rating yang lebih berkelanjutan masih memerlukan pemulihan kepercayaan dan dukungan likuiditas yang lebih luas,” kata Chief Investment Officer-Equity MAMI, Samuel Kesuma, dalam keterangan resmi.

|Baca juga: Kinerja 2026 Positif, Purbaya Siapkan Strategi Kemenkeu untuk 2027

Di tengah perbaikan tersebut, MAMI menilai bahwa pemilihan sektor tidak dapat dilakukan dengan mengacu pada satu tema besar saja. Oleh karena itu, pendekatan MAMI tetap bottom-up, yakni memilih perusahaan dengan pertumbuhan laba yang nyata, neraca sehat, arus kas baik, dan valuasi yang memberikan margin of safety.

Sektor konsumsi masih menunjukkan kinerja operasional dan pendapatan yang baik, namun akan menghadapi situasi yang relatif menantang terkait risiko kenaikan laju inflasi di semester kedua. Sektor yang terkait komoditas juga cukup menarik seiring dengan kinerja harga underlying yang kuat dan persepsi risiko regulasi yang cenderung berkurang.

Samuel juga menjelaskan bahwa dalam beberapa bulan ke depan, risiko eksternal utama adalah kombinasi gejolak harga minyak, The Fed yang kembali hawkish, dan dolar AS yang tetap kuat. Kombinasi tersebut dapat memengaruhi rupiah, arah suku bunga, biaya modal, dan minat investor terhadap pasar negara berkembang. El Niño juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan inflasi pangan dan menciptakan perbedaan dampak antar sektor.

Dari sisi domestik, fokusnya adalah pemulihan kepercayaan. Penurunan CDS saat ini  menunjukkan kekhawatiran jangka pendek mulai mereda, tetapi pasar masih menunggu bukti konsistensi kebijakan, disiplin fiskal, tata kelola, kepastian regulasi, perkembangan sovereign rating, dan peninjauan MSCI. Risiko terbesarnya bukan hanya arah suatu kebijakan, tetapi kejutan dan ketidakpastian dalam implementasinya.

|Baca juga: BEI Gelar Public Expose Live 2026 Diikuti 45 Emiten

MAMI merasa akan lebih percaya diri untuk lebih agresif menambah risiko apabila perbaikan fundamental mulai diikuti pemulihan kepercayaan pasar. Indikatornya antara lain stabilitas Rupiah yang lebih konsisten, tekanan suku bunga yang mereda, arus dana asing yang lebih berkelanjutan, dan kebijakan yang semakin dapat diprediksi.

Menurut Samuel, jika faktor-faktor tersebut bergerak searah, peluang re-rating akan lebih kuat dan tidak hanya bertumpu pada valuasi murah. Sebelum konfirmasi tersebut terlihat, portofolio tetap dikelola secara selektif. “Kami menjaga keseimbangan antara saham defensif dan saham yang dapat menangkap pemulihan ekonomi, dengan fokus pada emiten yang memiliki arus kas sehat, neraca kuat, bargaining power terhadap biaya, dan visibilitas laba yang baik,” jelasnya.

Dia tambahkan, pendekatan investasi secara bertahap dan terdiversifikasi masih tetap relevan, dan dua hal yang menjadi kompas atau pedoman bagi investor adalah potensi fundamental dan horizon investasi.

Saat ini pergerakan dan kinerja jangka pendek pasar saham sangat dipengaruhi berbagai faktor baik domestik maupun eksternal dengan intensitas yang dapat dibilang lebih dari biasanya, terutama dari sisi geopolitik dan arah kebijakan. “Namun pada akhirnya, dalam jangka panjang,  value suatu emiten akan ditentukan oleh kemampuannya menghasilkan laba, arus kas berkelanjutan, dan kelincahan beradaptasi menghadapi perubahan kebutuhan konsumennya,” tutur Samuel.

Editor: S. Edi Santosa

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post MAMI Menilai Perbaikan Perekonomian Telah Terlihat, Namun Kepercayaan Pasar Masih Harus Dibangun
Next Post Kredit Macet Industri Pindar Naik Jadi 4,32% hingga Juli 2026, Bos AFPI Ungkap Biang Keroknya!

Member Login

or