Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta industri asuransi kredit dan penjaminan memperkuat manajemen risiko di tengah kondisi ekonomi yang masih dinamis. Langkah ini dinilai penting agar pertumbuhan pembiayaan UMKM dan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) tetap sehat dan berkelanjutan.
“OJK melihat kondisi ekonomi yang masih dinamis perlu diantisipasi oleh industri asuransi kredit dan penjaminan melalui penguatan manajemen risiko, underwriting, serta pemantauan kualitas portofolio secara lebih ketat,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono.
Dalam jawaban tertulis yang dikutip Selasa, 21 Juli 2026, Ogi menjelaskan, keterbatasan data historis yang masih dimiliki sebagian pelaku UMKM memang menjadi tantangan dalam proses penilaian risiko.
Karena itu, OJK mendorong pemanfaatan data, termasuk akses Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), penguatan tata kelola, serta penerapan mekanisme risk sharing agar pertumbuhan pembiayaan dan penjaminan tetap berkelanjutan.
Di sisi lain, target penyaluran KUR sebesar Rp320 triliun pada tahun ini dinilai membuka peluang bagi industri penjaminan untuk meningkatkan volume bisnis dan pendapatan Imbal Jasa Penjaminan (IJP).
|Baca juga: Bank Jakarta Resmikan New Look Branch KCP Kebayoran Park
“Target penyaluran KUR sebesar Rp320 triliun pada tahun ini memberikan peluang yang cukup besar bagi industri penjaminan untuk meningkatkan volume bisnis dan pendapatan imbal jasa penjaminan. Namun demikian, peluang tersebut perlu diimbangi dengan pengelolaan risiko yang memadai,” ujar Ogi.
Ia menambahkan perusahaan penjaminan perlu mengantisipasi potensi kenaikan klaim, konsentrasi risiko, hingga kualitas kredit debitur. Selain itu, rencana penurunan bunga kredit mikro menjadi di bawah 10 persen juga diperkirakan memperluas akses pembiayaan bagi UMKM.
Namun, lanjutnya, industri tetap harus menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan prinsip kehati-hatian. Lebih lanjut, Ogi menegaskan, penjaminan kredit produktif memiliki profil risiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan kredit konsumtif karena sangat dipengaruhi oleh kinerja usaha dan kondisi ekonomi.
|Baca juga: Prospek Pasar Saham di China Disebut Dipengaruhi Kombinasi Kompleks
Meski sebagian perusahaan mulai melakukan diversifikasi ke segmen konsumtif, namun fokus industri tetap diarahkan untuk mendukung sektor produktif dan UMKM. Sementara itu, perlambatan pertumbuhan kredit pemilikan rumah diperkirakan turut memengaruhi bisnis asuransi jiwa kredit.
Untuk menjaga pertumbuhan, OJK mendorong perusahaan memperkuat diversifikasi sumber bisnis, meningkatkan kualitas manajemen risiko, serta menjaga tata kelola dan kerja sama yang sehat dengan lembaga penyalur pembiayaan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
