1
1

Pendanaan Insurtech di Asia Pasifik Terus Menyusut, Investor Mulai Ubah Arah?

Ilustrasi. | Foto: Freepik

Media Asuransi, GLOBAL – Pendanaan startup teknologi asuransi atau insurtech di kawasan Asia Pasifik (APAC) turun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Laporan Insurtech Global Outlook 2026 dari NTT DATA mencatat total pendanaan menyusut dari sekitar US$9,1 miliar pada periode 2018-2021 menjadi US$4,1 miliar pada periode 2022-2025.

Melansir laman Insurance Asia, Selasa, 21 Juli 2026, bukan cuma nilai pendanaannya yang turun, jumlah transaksinya juga ikut menyusut. Dari sebelumnya 383 transaksi, kini tinggal 202 transaksi dalam periode yang sama.

Meski demikian, investor ternyata tidak benar-benar meninggalkan industri insurtech. Mereka hanya mengubah fokus investasi. Jika sebelumnya banyak mendanai perusahaan asuransi digital, kini investor lebih tertarik pada startup yang menyediakan teknologi, platform, infrastruktur, dan layanan distribusi untuk perusahaan asuransi.

Perubahan itu juga terlihat dari peta pendanaan di kawasan. Porsi pendanaan China terus mengecil. Sebaliknya, gabungan Singapura dan Indonesia naik dari sekitar 12 persen menjadi 35 persen. Sementara India menjadi tujuan utama investasi dengan menguasai sekitar 45 persen total pendanaan pada periode 2022-2025.

Menurut NTT DATA, pergeseran ini menunjukkan investor lebih percaya pada perusahaan yang membantu transformasi digital industri asuransi daripada bersaing langsung sebagai perusahaan asuransi digital.

|Baca juga: Modal Generali China Insurance Makin Tebal, Fitch Yakin Ekspansi Tetap Aman

|Baca juga: Kerugian Asuransi Akibat Bencana Alam di Asia Turun ke Level Terendah di Semester I/2026

Beberapa transaksi yang menjadi sorotan antara lain pendanaan Seri C senilai US$147 juta yang diterima bolttech di Singapura dan pendanaan Seri C sebesar US$47 juta untuk platform asuransi Indonesia, Qoala.

Laporan ini juga menyoroti perkembangan Igloo di Asia Tenggara, kemitraan Smartpay dengan Chubb di Jepang, serta platform asal India seperti InsuranceDekho, MediBuddy, dan Perfios.

Di sisi lain, potensi bisnis insurtech di Asia masih sangat besar. Swiss Re memperkirakan sekitar 92 persen kerugian akibat bencana alam di Asia pada 2025 belum memiliki perlindungan asuransi.

Karena itu, NTT DATA menilai solusi seperti embedded insurance, analisis data untuk mencegah risiko, serta kolaborasi antara perusahaan asuransi dan perusahaan teknologi akan semakin dibutuhkan.

Laporan tersebut juga menunjukkan penggunaan kecerdasan buatan atau AI di industri asuransi masih belum maksimal. Sebanyak 66 persen karyawan perusahaan asuransi sudah memanfaatkan AI, tetapi baru 22 persen perusahaan yang benar-benar menggunakannya dalam operasional sehari-hari.

Padahal, AI diperkirakan mampu memangkas biaya operasional perusahaan asuransi hingga 35 persen. Selain itu, permintaan terhadap layanan asuransi yang lebih personal juga terus meningkat. Pasar embedded insurance bahkan sudah menembus US$116 miliar pada 2025.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Laba Oona Insurance (ABDA) Naik 21,4% di Kuartal I/2026
Next Post Pasar Broker dan Agen Asuransi Global Diproyeksikan Tembus US$653 Miliar di 2035

Member Login

or