Media Asuransi, JAKARTA – Islamic Insurance Society (IIS) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem asuransi syariah nasional melalui penyelenggaraan The 4th Sharia Insurance Experts Forum (SIEF) 2026.
Mengusung tema “Sharia Insurance Expert: Integrity, Innovation, and Empowerment of the Ummah”, forum yang berlangsung pada 17–19 Juli 2026 di Sukabumi, Jawa Barat, ini menjadi wadah kolaborasi regulator, akademisi, praktisi, dan peneliti untuk membahas penguatan integritas, inovasi, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia guna mendorong pertumbuhan industri asuransi syariah yang berkelanjutan dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
SIEF 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam mendorong pertumbuhan industri asuransi syariah melalui penguatan tata kelola, inovasi, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta riset yang aplikatif.
|Baca juga: Bos OJK: IIS 2026 Wadah Kolaborasi Dukung Kemajuan Perasuransian Indonesia
Ketua Umum Islamic Insurance Society (IIS), Edi Setiawan dalam sambutannya, menegaskan bahwa IIS akan terus memperkuat perannya sebagai lembaga pengembangan kompetensi dan pusat kajian asuransi syariah.
“IIS berkomitmen membangun kompetensi melalui pelatihan kerja berstandar nasional dan membantu menggali potensi asuransi syariah melalui riset dan perumusan kebijakan. Kami ingin menjadi mitra strategis bagi industri dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul sekaligus menghasilkan pemikiran yang mampu mendorong kemajuan industri asuransi syariah nasional,” ujar Edi dalam keterangannya, Kamis, 23 Juli 2026.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Fauzi, menegaskan pentingnya kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menjawab berbagai tantangan industri.
“AASI berkolaborasi dengan IIS untuk memecahkan berbagai gap di industri asuransi syariah. Sinergi antara asosiasi, regulator, akademisi, dan pelaku usaha menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan industri yang sehat, inovatif, dan berkelanjutan,” katanya.
|Baca juga: AASI Tingkatkan Kesiapan Industri Asuransi Syariah Jelang Penyelesaian Spin-Off 2026
Pada kesempatan itu, Bendahara III Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Siti Ma’rifah, menyoroti masih rendahnya tingkat penetrasi, literasi, dan inklusi asuransi syariah di Indonesia. “Penetrasi, literasi, dan inklusi asuransi syariah masih sangat rendah. Karena itu diperlukan dukungan lembaga keahlian yang turun langsung membangun kapasitas SDM, seperti IIS, serta kolaborasi dengan MES untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah nasional,” ujar Siti Ma’rifah.
Dari sisi regulator, Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sumarjono, menyampaikan bahwa keberlanjutan industri ditentukan oleh kualitas tata kelola, manajemen risiko, kepatuhan, inovasi, serta sumber daya manusia.
“Tiga pilar utama pertumbuhan industri adalah governance, risk management dan compliance, inovasi produk, serta pengembangan SDM. SDM merupakan faktor paling penting dalam menjalankan seluruh aspek tersebut. Oleh karena itu, IIS memiliki peluang besar untuk berkontribusi mencetak profesional yang kompeten di bidang asuransi syariah,” jelasnya.
Senada dengan itu, Ketua Bidang SDM DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Prof. Dr. Euis Amalia, menekankan pentingnya sinergi antara organisasi profesi dan perguruan tinggi. “IAEI dan IIS dapat menjadi simpul energi keilmuan melalui pengembangan riset bersama, penggerak talenta, pemasok SDM unggul, sekaligus integrator ekosistem ekonomi syariah,” ungkapnya.
|Baca juga: Pangsa Pasar Asuransi Syariah Masih Mini, OJK: Peluangnya Besar yang Belum Digarap!
Sementara itu, mewakili Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), Asep Supyadilah, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang telah terjalin selama ini. “Kerja sama DSN-MUI dengan IIS telah berlangsung dalam berbagai kegiatan, termasuk penyediaan narasumber bidang asuransi syariah. Kami juga mendukung penguatan riset bersama yang menjadi salah satu agenda penting dalam SIEF 2026,” katanya.
Forum ini juga mempresentasikan hasil Riset Tahunan Tim Internal IIS mengenai Implementasi KUPA dalam Asuransi Syariah serta Implementasi Asset Liability Management (ALM) pada Dana Perusahaan dan Dana Tabarru’ sebagai kontribusi akademik dalam memperkuat tata kelola industri.
Pada puncak acara diselenggarakan Talk Show “Asuransi Syariah dalam Perspektif Dunia Akademis” yang menghadirkan akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), IPB University, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Diskusi yang dipandu oleh Ketua Bidang Pelatihan & Uji Profesi IIS Wahyudin Rahman, yang mengupas berbagai tantangan, kesenjangan (gap), serta harapan dunia akademik terhadap pengembangan industri asuransi syariah di Indonesia.
Melalui SIEF 2026, IIS menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain penguatan kompetensi SDM melalui pelatihan berbasis standar nasional, pengembangan riset terapan sebagai dasar penyusunan kebijakan industri, serta penguatan kolaborasi antara regulator, asosiasi, akademisi, dan pelaku industri. Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi kontribusi nyata bagi percepatan pertumbuhan industri asuransi syariah yang sehat, inklusif, inovatif, dan berdaya saing global.
Editor : Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
