Media Asuransi, JAKARTA –Di tengah suku bunga global yang masih berada pada level relatif tinggi dibandingkan periode sebelum pandemi, meningkatnya tensi geopolitik di berbagai kawasan, disrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta lonjakan kejahatan siber terhadap sektor keuangan, bank dituntut membangun ketahanan bisnis yang jauh lebih adaptif dibandingkan sebelumnya.
Di Indonesia, tantangan tersebut hadir bersamaan dengan implementasi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang membuka peluang bisnis baru melalui pengembangan bullion banking atau layanan bank emas. Inovasi ini diproyeksikan memperluas sumber pendapatan industri perbankan dan memperdalam pasar keuangan nasional. Namun, peluang tersebut juga membawa konsekuensi berupa meningkatnya kompleksitas risiko operasional, kepatuhan, likuiditas, teknologi, hingga reputasi.
Kondisi tersebut menjadi latar belakang penyelenggaraan The Jakarta Risk Management Convention (JRMC) 2026 yang digelar Lembaga Sertifikasi Profesi Badan Sertifikasi Manajemen Risiko (LSP BSMR) dengan tema: “Strategi Ketahanan Finansial 2026: Risk Management, Bullion Banking, Transformasi AI, dan Cyber Resilience.”
|Baca juga: AI Mengubah Profesi Broker Asuransi: Mengapa Sertifikasi Kompetensi Kini Menjadi Penentu Masa Depan?
Direktur BSMR, Prof. Dr. Ir. Gandung Troy Sulistyantoro, SH, M.Si., CRM., mengatakan, industri perbankan saat ini sedang menghadapi perubahan terbesar dalam dua dekade terakhir. Risiko tidak lagi hanya berasal dari siklus ekonomi, tetapi juga dari perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Hal ini berakibat semakin terbukanya risiko yang akan dihadapi industri perbankan dan sektor-sektor lainnya.
“Perbankan Indonesia harus mampu bertransformasi dari sekadar mengelola risiko menjadi organisasi yang membangun ketahanan (resilience). Artificial Intelligence, digitalisasi layanan keuangan, bullion banking, dan meningkatnya ancaman siber menuntut lahirnya bankir yang memiliki kompetensi baru. Karena itu, investasi terbaik industri keuangan hari ini bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang memahami manajemen risiko secara komprehensif,” ujar Gandung dalam keterangannya, Senin, 10 Agustus 2026.
Menurutnya, AI akan menjadi mesin pertumbuhan baru bagi industri keuangan melalui otomasi proses bisnis, percepatan analisis kredit, penguatan deteksi fraud, hingga personalisasi layanan nasabah. Namun di saat yang sama, AI juga meningkatkan risiko baru seperti bias algoritma, kebocoran data, penyalahgunaan identitas digital, hingga meningkatnya serangan deepfake yang berpotensi mengganggu kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan.
|Baca juga: OJK dan KPK Perkuat Budaya Integritas Melalui Sertifikasi API
Di sisi lain, laporan berbagai lembaga keamanan siber menunjukkan bahwa sektor jasa keuangan tetap menjadi salah satu target utama serangan siber dunia. Modus serangan berkembang dari ransomware menjadi social engineering berbasis AI, pencurian identitas digital, hingga eksploitasi kelemahan rantai pasok teknologi informasi. Kondisi tersebut menjadikan cyber resilience bukan lagi sekadar isu teknologi, melainkan bagian integral dari strategi bisnis dan tata kelola perusahaan.
Tidak hanya itu, tekanan geopolitik yang masih berlangsung turut meningkatkan volatilitas pasar keuangan global. Fluktuasi nilai tukar, perubahan arus modal, serta ketidakpastian harga komoditas menjadi faktor yang memengaruhi kualitas aset perbankan, likuiditas, dan permintaan pembiayaan. Dalam situasi seperti ini, kemampuan bank mengidentifikasi risiko secara dini menjadi faktor pembeda antara institusi yang mampu bertahan dan yang tertinggal.
Melalui JRMC 2026, para peserta akan memperoleh perspektif langsung dari regulator, pimpinan industri, praktisi keamanan siber, serta aparat penegak hukum mengenai perkembangan kebijakan sektor jasa keuangan, implementasi bullion banking, penguatan tata kelola AI, mitigasi kejahatan finansial digital, hingga strategi membangun organisasi yang tangguh menghadapi berbagai skenario risiko.
Editor : Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
