Media Asuransi, JAKARTA – Pasar saham Indonesia ditutup melemah setelah mencatatkan penguatan selama lima hari berturut-turut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah -1,89 persen atau -113,13 poin ke 5.873,37, dengan saham-saham BBCA (-1,98 persen), BBRI (-2,45 persen), AMMN (-5,90 persen), BMRI (-2,46 persen), dan BREN (-4,97 persen) menjadi penekan terbesar.
Dikutip dari Spring Flash oleh tim PT Eastspring Investments Indonesia, sentimen risiko di kawasan Asia Kembali tertekan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang mendorong harga minyak Brent mencatat kenaikan dua hari terbesar dalam hampir dua bulan dan diperdagangkan di kisaran US$77,7 per barel.
|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Sentimen Pasar Tetap Berhati-hati di Tengah Terbatasnya Katalis Positif
Dari domestik, sentimen pasar turut tertekan setelah S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) menyatakan dapat menempatkan pasar saham Indonesia dalam status under review untuk potensi reklasifikasi, menyusul evaluasi yang sebelumnya juga dilakukan oleh MSCI.
Meski implikasi terhadap arus dana pasif yang mengikuti indeks S&P DJI diperkirakan relatif terbatas, perkembangan ini memperkuat perhatian investor terhadap aksesibilitas dan struktur pasar Indonesia.
Kehadiran S&P DJI sebagai penyedia indeks global kedua yang secara eksplisit menyebut kemungkinan status Frontier turut menjadi pengingat bahwa isu kualitas pasar masih menjadi perhatian. Dalam komunikasinya, S&P DJI menyampaikan bahwa apabila kondisi pasar memburuk, pengumuman mengenai Special Measures –termasuk potensi freeze atau downweighting– dapat dilakukan sewaktu-waktu. Apabila kondisi tersebut tidak terselesaikan dalam waktu sekitar satu tahun, proses menuju potensi penurunan klasifikasi (downgrade) dapat dipertimbangkan.
|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Minimnya Katalis Membatasi Pergerakan Pasar Saham Indonesia
Di tengah minimnya katalis positif, nilai tukar rupiah turut melemah ke 0,19 persen ke level Rp18.014 per dolar AS. Sementara itu, pasar obligasi juga mengalami tekanan dengan kenaikan imbal hasil secara merata. Imbal hasil SBN tenor lima tahun naik 7,86 bps (basis points) menjadi 7,22 persen, sedangkan tenor 10 tahun meningkat 5,73 bps menjadi 7,25 persen, mencerminkan kehati-hatian investor terhadap stabilitas nilai tukar dan keberlanjutan arus dana asing.
“Meski demikian, kami menilai pasar saham Indonesia telah melalui penyesuaian valuasi dan ekspektasi yang cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir, sehingga ruang pelemahan lebih lanjut diperkirakan menjadi semakin terbatas selama tidak muncul kejutan baru yang bersifat material,” tulis tim Eastspring Indonesia.
Ditambahkan, arah pemulihan pasar kemungkinan akan sangat bergantung pada kembalinya arus dana asing. Hal ini akan ditentukan oleh konsistensi langkah regulator dan pemerintah dalam memperkuat kredibilitas kebijakan, meningkatkan kualitas tata kelola pasar, serta mengembalikan fokus investor pada fundamental ekonomi dan prospek emiten.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

