1
1

Ekonomi RI Membaik, tapi Pasar Modal Masih Tertekan Gara-gara Freeze Review MSCI

Ilustrasi. | Foto: Freepik/starline

Media Asuransi, JAKARTA – Wakil Direktur Samuel Sekuritas Suria Dharma menilai tantangan terbesar saat ini justru berada di pasar modal terutama berkaitan dengan derasnya arus keluar dana asing akibat pembekuan (freeze) review saham Indonesia oleh MSCI. Hal itu meski indikator ekonomi makro dan fiskal menunjukkan perbaikan.

Samuel Sekuritas mencatat total dana asing yang keluar dari pasar saham Indonesia telah mencapai Rp75 triliun hingga pertengahan tahun ini. Angka tersebut terbilang cukup besar dan perlu ada upaya untuk mengantisipasi agar tidak terus keluar.

|Baca juga: Daftar Peserta BPJS Ketenagakerjaan Kini Lebih Mudah Lewat BSI Agen

|Baca juga: Bank Jago Luncurkan Rapor Kredit, Debitur Kini Bisa Cek Kesehatan Pinjaman Langsung dari Aplikasi

“Angka ini sangat besar. Dulu foreign outflow Rp30 triliun dalam satu tahun saja sudah dianggap besar. Sekarang, dalam tujuh bulan sudah mencapai Rp75 triliun,” tegas dia, dalam sebuah diskusi, di Habitate Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026.

Meski demikian, Suria berpendapat, arus dana asing ke Indonesia secara keseluruhan masih berada dalam posisi positif. Mengacu pada paparan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dana asing yang masuk melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai sekitar Rp170 triliun.

Selain itu, investasi asing di Surat Berharga Negara (SBN) yang sebelumnya mencatat arus keluar, kini berbalik menjadi surplus sekitar Rp7 triliun. “Jadi, secara overall sebenarnya masih positif. Isunya memang ada di pasar modal,” tutur dia.

|Baca juga: Permata Bank Dorong Generasi Muda Jadi Future Leaders

|Baca juga: Danamon (BDMN) Komitmen Dukung Pertumbuhan Startup di Indonesia

Suria Dharma menjelaskan tekanan di pasar saham terasa sejak akhir Januari 2026, ketika MSCI mengumumkan status Indonesia berpotensi diturunkan dari kategori emerging market menjadi frontier market. Meski status tersebut akhirnya tidak berubah, namun pernyataan itu memicu keluarnya dana asing secara berkelanjutan.

Dirinya menegaskan persoalan utama saat ini bukan lagi status Indonesia sebagai emerging market, melainkan pembekuan review saham Indonesia oleh MSCI. “Selama masih dibekukan, tidak ada tambahan emiten Indonesia yang masuk ke indeks MSCI, tidak ada penyesuaian free float, dan tidak ada proses upgrade,” kata dia.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Media Asuransi (@mediaasuransinews)

Menindaklanjuti hal itu, regulator telah melakukan sejumlah perbaikan, antara lain meningkatkan keterbukaan data kepemilikan saham dari ambang batas lima persen menjadi satu persen, serta memperluas keterbukaan informasi mengenai Ultimate Beneficial Ownership (UBO).

Namun, dalam evaluasi berikutnya pada April 2026, MSCI memutuskan belum membuka pembekuan dimaksud. Pada Mei 2026, perubahan data yang diterbitkan regulator juga menyebabkan perhitungan free float sejumlah emiten mengalami penurunan berdasarkan metodologi MSCI.

“Perhitungan free float versi MSCI berbeda dengan data KSEI. Karena free float turun, otomatis free float market cap juga turun. Akibatnya banyak perusahaan yang akhirnya tidak lagi memenuhi persyaratan untuk tetap berada di indeks MSCI,” tutur dia.

|Baca juga: AAJI Sebut Perusahaan Asuransi Harus Cermat saat Membuat Produk Asuransi Kesehatan

|Baca juga: Industri Asuransi Indonesia Diramal Tumbuh Berkelanjutan, Didorong 3 Hal Ini!

Dalam review terbaru yang diumumkan beberapa hari lalu, MSCI kembali menegaskan Indonesia tetap berstatus emerging market. Namun, pembekuan review saham Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut setidaknya sampai November 2026, tanpa jaminan akan dicabut setelah periode tersebut berakhir.

|Baca juga: Banyak Pekerja di RI Lupa Punya Dana Pensiun, DPLK Manulife Ungkap Penyebabnya!

|Baca juga: AAJI ‘Spill’ Tantangan Perlindungan Kesehatan untuk Warga RI

“Sebenarnya yang kita khawatirkan adalah kapan status freeze ini dibuka. Selama review saham Indonesia masih dibekukan, dana asing yang baru tidak akan masuk ke pasar modal kita,” pungkas dia.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post OJK Sita Aset PSP PT Asuransi Jiwa Prolife Indonesia
Next Post BI Komitmen Terus Berdayakan UMKM Demi Perkuat Pertumbuhan Ekonomi RI

Member Login

or