1
1

59% Pekerja Indonesia di Sektor Informal, CBI Dorong Inovasi Penilaian Kredit

Media Asuransi, JAKARTA – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026, sebanyak 59,42 persen pekerja Indonesia berada di sektor informal. Kondisi ini menjadi tantangan bagi lembaga keuangan yang mengandalkan dokumen pendapatan formal dalam menilai kemampuan bayar calon peminjam.
Sementara itu, Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat proporsi pendapatan konsumen untuk membayar cicilan atau utang mencapai 10 persen pada Agustus 2026. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya informasi pendapatan dan kewajiban keuangan dalam proses penilaian kredit.
“Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengapresiasi penyelenggaraan CBI Connect 2026 sebagai forum strategis untuk memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam mengembangkan ekosistem informasi perkreditan di Indonesia. Forum ini diharapkan dapat memperkuat peran Lembaga Pengelola Informasi Perkreditan (LPIP) melalui pengembangan credit intelligence dan pemanfaatan data berkualitas untuk mendukung strategi pengelolaan risiko kredit yang lebih komprehensif,” ujar Direktur Analisis Informasi dan Manajemen Krisis Perbankan, Departemen Perizinan dan Manajemen Krisis Perbankan, OJK, Bayu Husodo dikutip dari keterangan resmi, Selasa, 27 Oktober 2026.
PT Credit Bureau Indonesia (CBI), biro kredit swasta terbesar di Indonesia berdasarkan volume, memperkenalkan empat solusi credit intelligence dalam forum CBI Connect 2026 di The St. Regis Jakarta untuk membantu lembaga keuangan mengatasi keterbatasan data pendapatan dalam menilai kelayakan kredit.
Berbagai tantangan yang dihadapi lembaga keuangan dalam memperluas inklusi keuangan menunjukkan pentingnya penggunaan data yang tepat dan sesuai ketentuan untuk menilai kelayakan kredit di tengah kompleksitas kebutuhan pembiayaan masyarakat Indonesia. Melalui inovasi credit intelligence, CBI menyediakan informasi yang lebih komprehensif mengenai profil calon peminjam berdasarkan data yang akurat, sehingga membantu lembaga keuangan meningkatkan akurasi penilaian kredit, menjaga kualitas portofolio, dan memenuhi ketentuan yang berlaku,” ujar Presiden Direktur CBI, Anton K. Adiwibowo.
Dalam forum tersebut, ekonom senior sekaligus pembicara CBI Connect 2026, Aviliani menyoroti pentingnya kemampuan beradaptasi dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi serta mendorong pemerataan pertumbuhan melalui pemberdayaan sektor informal dan UMKM.
“Cerita perekonomian Indonesia ke depan tidak hanya perlu menjaga aspek stabilitas di era higher, tighter, and longer atau aspek pertumbuhan tinggi saja. Namun, aspek pemerataan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui pemberdayaan sektor informal dan UMKM menjadi relevan. Bagi lembaga keuangan, hal ini membuat kita perlu melihat lebih jauh dari skor biro kredit dan memahami realitas ekonomi debitur secara utuh,” ujarnya.
Editor: Irdiya Setiawan

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post FWD Insurance dan OCBC Hadirkan Produk Pelindungan Jiwa dan Manfaat Finansial Terjamin

Member Login

or