Media Asuransi, GLOBAL – Menurut GlobalData, usaha mikro masih rentan terhadap serangan siber karena banyak pemilik bisnis merasa tidak mungkin menjadi target atau menganggap asuransi siber belum diperlukan. Padahal, kecerdasan buatan (AI) generatif mempermudah penjahat siber melancarkan serangan phishing dalam skala besar.
|Baca juga: Fokus Pasar Asuransi Singapura Bergeser ke Kecukupan Proteksi
Survei UKM GlobalData 2025 menemukan bahwa 27 persen responden yang tidak memiliki asuransi siber menilai kemungkinan mereka menjadi korban serangan siber relatif kecil. Alasan lainnya meliputi kesulitan menemukan polis yang sesuai dan keyakinan bahwa bisnis mereka telah terlindungi.
Sementara itu, riset perusahaan asuransi siber Coalition menunjukkan klaim penipuan email bisnis meningkat sekitar 30 persen pada semester II/2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini berdampak tidak proporsional terhadap usaha mikro.
|Baca juga: IFG Life: Inklusi Keuangan Harus Diiringi Pemahaman tentang Manfaat Proteksi
Charlie Hutcherson, Analis Asuransi Senior GlobalData, mengatakan banyak usaha mikro masih menganggap skala bisnis mereka membuatnya kurang menarik bagi penjahat siber.
“Mungkin itu pernah benar, tetapi alat AI telah membuat penargetan ribuan perusahaan kecil sekaligus menjadi murah dan mudah,” ujarnya, dikutip dari Insurance Asia, Senin, 26 Oktober 2026..
Menurut Hutcherson, otomatisasi memungkinkan penjahat siber menargetkan banyak bisnis sekaligus tanpa harus berfokus pada korban bernilai tinggi.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, perusahaan asuransi perlu menyederhanakan polis dan mempermudah akses perlindungan. Cakupan dasar, seperti perlindungan terhadap peretasan email bisnis dan penipuan transfer dana, dapat dimasukkan ke dalam paket asuransi komersial standar.
|Baca juga: OJK Buka Suara soal Peluang Bisnis Asuransi dari Booming Data Center
Perusahaan asuransi dan pialang juga perlu meningkatkan pemahaman pemilik usaha mengenai risiko serta potensi kerugian akibat serangan siber.
“Seiring semakin mudahnya mengakses alat AI, volume serangan yang ditujukan pada bisnis terkecil kemungkinan besar tidak akan melambat,” kata Hutcherson.
Ia memperingatkan bahwa bisnis yang mengabaikan risiko siber berpotensi menanggung sendiri kerugian akibat penipuan, gangguan operasional, dan biaya pemulihan.
Survei UKM GlobalData 2025 dilaksanakan pada kuartal IV/2025 terhadap 2.054 bisnis dengan kurang dari 250 karyawan di 14 negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, Tiongkok, India, Malaysia, dan Brasil.
Editor: Irdiya Setiawan
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

