Media Asuransi, GLOBAL – Perusahaan asuransi di Singapura sebaiknya tidak lagi sekadar memperluas cakupan, melainkan memastikan polis memberikan proteksi yang cukup, seiring nasabah semakin merencanakan pensiun, membangun kekayaan, dan mewariskan aset, menurut Etiqa Insurance Pte. Ltd.
|Baca juga: Hadapi Tantangan Ekonomi 2027, Jasa Raharja Terus Perkuat Strategi Keberlanjutan Bisnis
“Sementara banyak pasar di Asia Tenggara masih berfokus memperluas penetrasi asuransi dan mempersempit kesenjangan proteksi, tantangan di Singapura makin bergeser ke soal kecukupan, relevansi, dan memastikan proteksi mengikuti perkembangan kebutuhan nasabah,” ujar CEO Etiqa Insurance Singapore, Claudia Soh, dikutip dari Insurance Asia, Senin, 26 Oktober 2026.
Penetrasi asuransi Singapura mencapai 7,6 persen dari produk domestik bruto (PDB), menurut Allianz Global Insurance Report 2026 yang terbit pada Mei. Angka ini menempatkan Singapura di peringkat keempat di antara pasar Asia terpilih, di bawah Korea Selatan, Taiwan, dan Hong Kong.
|Baca juga: OJK Buka Suara soal Peluang Bisnis Asuransi dari Booming Data Center
Soh mengatakan nasabah kini semakin memandang asuransi sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang, bukan semata perlindungan dari kerugian tak terduga.
Laporan CIMB Bank Berhad, Singapore Branch pada Mei menemukan bahwa 52,6 persen penduduk Singapura menilai asuransi membantu mereka mencapai kemandirian finansial, naik dari 45 persen pada 2025.
Nasabah juga melihat asuransi sebagai sarana mendukung pensiun, membangun kekayaan, dan mewariskannya kepada keluarga, serta melindungi hewan peliharaan dan barang berharga, kata Soh.
Pergeseran ini menuntut perusahaan asuransi menunjukkan bagaimana produk mereka mendukung tujuan keuangan nasabah di berbagai tahap kehidupan.
|Baca juga: Baru 20 DPLK Kelola Dana Kompensasi Pascakerja, OJK Siapkan Aturan Baru
Kecerdasan buatan (AI) dapat membantu perusahaan asuransi memahami nasabah dengan lebih baik dan menyesuaikan layanan dengan kebutuhan mereka, meski penilaian manusia dan hubungan dengan nasabah tetap penting, ujarnya.
“AI adalah pendukung yang penting, tetapi kepercayaan, penilaian manusia, dan hubungan yang bermakna dengan nasabah tetap sama pentingnya,” kata Soh.
Ia juga menyinggung aturan Singapura tentang analitik data dan AI yang bertanggung jawab di sektor jasa keuangan sebagai contoh regulator bekerja sama dengan industri. Etiqa melihat peluang pertumbuhan di bidang proteksi, pembangunan kekayaan, dan pensiun, meski Soh tidak mengungkapkan target spesifik.
Editor: Irdiya Setiawan
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

