Media Asuransi, JAKARTA – Pelaku usaha didorong tidak hanya mengejar pertumbuhan penjualan selama Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). Akan tetapi juga memperhatikan margin keuntungan, pengelolaan stok, dan retensi pelanggan untuk menjaga keberlanjutan bisnis setelah periode promosi berakhir.
Chief Business Officer Global Fynd Ronak Modi mengatakan lonjakan transaksi selama kampanye belanja daring belum tentu mencerminkan keuntungan yang diperoleh perusahaan. Menurut dia, pengelolaan operasional menjadi faktor penting untuk memastikan peningkatan penjualan memberikan nilai jangka panjang bagi bisnis.
Ia menambahkan harbolnas selalu dipandang sebagai persoalan permintaan. Padahal bagi brand, momen ini sebenarnya berkaitan erat dengan operasional mereka. Pada konteks ini, promo bisa mendatangkan volume.
“Tetapi yang menentukan apakah volume tersebut menjadi nilai jangka panjang adalah bagaimana brand mengelola stok, pengiriman, dan hubungan dengan pelanggan,” ujar Ronak dalam keterangan tertulisnya yang dikutip Senin, 26 Oktober 2026.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan yang dikutip dalam whitepaper Fynd bertajuk Megasale Playbook, transaksi Harbolnas 2025 mencapai Rp36,4 triliun selama sepekan, meningkat 17 persen dari tahun sebelumnya.
Nilai tersebut menjadi bagian dari total transaksi Rp122,3 triliun dari berbagai program belanja akhir tahun. Pada hari puncak kampanye, penjualan sejumlah merek lokal bahkan dilaporkan meningkat tujuh hingga sembilan kali lipat dibandingkan dengan hari biasa.
Namun, nilai transaksi atau Gross Merchandise Value (GMV) tidak sepenuhnya menggambarkan profitabilitas bisnis. Indikator tersebut mencerminkan nilai transaksi yang terjadi, tetapi belum memperhitungkan seluruh biaya operasional, diskon, retur, dan biaya pemasaran yang memengaruhi keuntungan.
Fynd mengidentifikasi lima aspek yang perlu diperhatikan pelaku usaha dalam menghadapi kampanye belanja besar, yakni profitabilitas per pesanan, pengelolaan inventaris, pengumpulan data pelanggan, strategi penjualan lintas kanal, serta pengelolaan pelanggan setelah periode promosi.
Perhitungan margin dan pengelolaan stok
Dalam whitepaper tersebut, Fynd menekankan pentingnya menghitung keuntungan bersih pada setiap pesanan dengan memperhitungkan diskon, komisi platform, biaya iklan, dan potensi retur. Perhitungan ini diperlukan agar peningkatan penjualan tidak justru menekan margin perusahaan.
Fynd juga menyoroti biaya platform dan logistik yang disebut mencapai 10 persen hingga 20 persen dari harga jual setelah penyesuaian biaya pada Mei 2026. Besarnya potongan tersebut membuat pelaku usaha perlu menetapkan batas minimum keuntungan sebelum menjalankan promosi.
|Baca juga: IFG Life: Inklusi Keuangan Harus Diiringi Pemahaman tentang Manfaat Proteksi
|Baca juga: Baru 20 DPLK Kelola Dana Kompensasi Pascakerja, OJK Siapkan Aturan Baru
Selain margin, pengelolaan stok menjadi perhatian selama periode kampanye. Peningkatan permintaan dapat memicu ketidaksesuaian data inventaris, pembatalan pesanan, hingga penalti dari platform apabila perusahaan menjual produk yang sebenarnya tidak tersedia.
Persoalan tersebut dinilai perlu diantisipasi melalui integrasi data persediaan dari berbagai kanal penjualan. Dengan demikian, perusahaan dapat memantau ketersediaan barang secara lebih akurat ketika volume pesanan meningkat.
Untuk kategori fesyen, tantangan juga muncul dari tingginya potensi retur. Fynd mencatat sekitar 30 persen hingga 40 persen pesanan pakaian berakhir dengan pengembalian barang, dengan sekitar 70 persen retur berkaitan dengan ketidaksesuaian ukuran.
Pengelolaan data pelanggan
Aspek lain yang menjadi perhatian adalah keterbatasan akses terhadap data pelanggan yang bertransaksi melalui marketplace. Kondisi tersebut dapat menyulitkan perusahaan membangun komunikasi langsung dan mendorong pembelian berulang setelah promosi berakhir.
|Baca juga: OJK Buka Suara soal Peluang Bisnis Asuransi dari Booming Data Center
Karena itu, Fynd menyarankan pelaku usaha mengembangkan mekanisme yang memungkinkan pelanggan terhubung melalui kanal resmi perusahaan, sepanjang sesuai dengan ketentuan platform dan perlindungan data pribadi.
Salah satu caranya adalah menyediakan layanan pendaftaran garansi atau penukaran ukuran yang memberikan manfaat bagi konsumen sekaligus membuka kesempatan untuk membangun hubungan langsung dengan pelanggan.
Dari sisi distribusi penjualan, marketplace tetap berperan dalam menjangkau konsumen baru. Namun, perusahaan juga perlu mengembangkan kanal penjualan sendiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap perubahan biaya dan kebijakan platform pihak ketiga.
Fynd mencontohkan sejumlah merek lokal, seperti True to Skin, Raecca, Noera Beauty Care, Iumi, dan Watch Story, yang disebut mengalihkan fokus ke situs penjualan milik sendiri setelah penyesuaian biaya platform pada Mei 2026.
Sementara itu, Sociolla menjadi contoh bisnis yang mengembangkan ekosistem pelanggan melalui aplikasi SOCO dan jaringan toko fisik. Fynd mencatat SOCO memiliki 7,6 juta anggota dan 3,5 juta ulasan, sedangkan jaringan toko fisik Sociolla telah menjangkau lebih dari 55 kota dengan jumlah toko melampaui 125 gerai.
Evaluasi setelah kampanye
Fynd juga menilai periode 45 hari setelah kampanye 12.12 menjadi waktu penting untuk mengevaluasi hasil promosi. Pelaku usaha perlu membedakan pelanggan baru yang berpotensi melakukan pembelian berulang dengan konsumen yang hanya bertransaksi ketika tersedia diskon besar.
Evaluasi tersebut mencakup pengelolaan retur, layanan pelanggan, serta penawaran produk lanjutan untuk mendorong pembelian dengan harga normal.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan kampanye tidak hanya diukur dari besarnya transaksi selama periode promosi, tetapi juga dari kemampuan perusahaan mempertahankan margin dan mengubah pembeli baru menjadi pelanggan berulang.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

