Media Asuransi, JAKARTA – Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fauzan Luthfi Djamal menyatakan peluang di sektor komoditas semakin bergantung pada dampak spesifik dari perubahan kebijakan pemerintah. Kebijakan komoditas saat ini terutama berpengaruh pada produksi, pricing, export flows, dan penerimaan negara.
Menurut Fauzan, pelonggaran Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara lebih tepat dilihat sebagai dispersion event, bukan perubahan yang otomatis menguntungkan seluruh sektor.
Ia menambahkan tambahan volume akan berdampak berbeda antarperusahaan. Sementara di nikel, keterbatasan pasokan bijih nikel justru memperkuat posisi perusahaan tambang dan berpotensi menekan margin perusahaan converter.
“Pelonggaran RKAB lebih tepat dilihat sebagai dispersion event, bukan sector-wide reset. Di nikel, tightness di sisi ore juga membuat posisi perusahaan tambang menjadi lebih kuat karena bargaining power meningkat,” kata Fauzan, dalam Media Day Online: September 2026, Selasa, 15 September 2026.
“Sementara beberapa perusahaan converter menghadapi risiko kenaikan biaya feedstock. Jadi, investor perlu melihat posisi dan fundamental masing-masing emiten, bukan hanya pergerakan harga komoditas,” tambah Fauzan.
|Baca juga: OJK Bakal Resmikan Icomex, Perdagangan Perdana Berlangsung di Awal 2027
Selain perubahan kebijakan produksi dan ekspor, lanjutnya, rencana Commodity Exchange yang ditargetkan mulai berjalan pada 1 Januari 2027 berpotensi memperkuat price discovery dan membentuk referensi harga komoditas di dalam negeri.
Namun, dampaknya terhadap pricing power Indonesia akan bergantung pada likuiditas bursa dan seberapa luas harga domestik digunakan sebagai benchmark.
|Baca juga: Pergantian Menkeu Jadi Perhatian Pasar, Mirae Asset Sekuritas Soroti Kredibilitas Fiskal
“Commodity Exchange berpotensi menjadi langkah penting untuk meningkatkan price discovery di dalam negeri. Namun, dampaknya terhadap pricing power Indonesia akan sangat bergantung pada likuiditas bursa dan seberapa besar pelaku pasar menggunakan harga domestik tersebut sebagai benchmark,” jelas Fauzan.
Dengan demikian, Fauzan melihat, peluang di sektor komoditas terutama pada perusahaan yang memiliki scarcity, pricing power, dan posisi strategis dalam rantai pasok. “Tidak semua saham komoditas akan bergerak dengan arah yang sama meskipun harga komoditasnya naik,” tutup Fauzan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
