Media Asuransi, JAKARTA – Industri perusahaan pembiayaan atau multifinance kini semakin selektif dalam menyalurkan pembiayaan. Kondisi tersebut terjadi karena pelaku industri harus menjaga kualitas pembiayaan sekaligus mengantisipasi risiko kredit macet.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan tingkat persetujuan pembiayaan saat ini jauh lebih ketat dibandingkan dengan sebelumnya. Jika dahulu dari 10 orang yang mengajukan pembiayaan hanya sekitar delapan orang yang disetujui, kini jumlahnya menyusut menjadi sekitar lima orang.
“Dulu 10 kalau orang mau kredit motor dan mobil, hanya delapan dulu disetujui, sekarang hanya lima yang disetujui,” kata Suwandi dalam acara perayaan satu dekade Kredivo, Kamis, 10 September 2026.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan kehati-hatian industri dalam menghadapi risiko pembiayaan. Perusahaan pembiayaan tidak bisa lagi sembarangan menyetujui setiap pengajuan kredit karena dana yang disalurkan tetap harus dikembalikan oleh debitur.
Suwandi juga mengingatkan kemudahan akses pembiayaan perlu diimbangi dengan kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan. Menurut dia, masyarakat memang kini semakin mudah memperoleh pembiayaan, termasuk melalui layanan digital seperti Buy Now Pay Later (BNPL).
|Baca juga: LPS Bidik Program Penjaminan Polis Mulai Berlaku Juli 2027
“Banyak keinginan yang ingin dimiliki sesuatu ini dan itu, tapi sesuaikan dengan kemampuannya,” ujarnya.
Di sisi lain, pertumbuhan pembiayaan digital justru masih cukup tinggi. Suwandi menyebut pembiayaan BNPL di industri perusahaan pembiayaan tumbuh sekitar 30 persen.
|Baca juga: Survei: Akses Kredit Pertama Lewat Kredivo Naik 10 Kali Lipat di 2025
Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu yang paling tinggi dibandingkan sejumlah jenis pembiayaan lainnya. Sementara itu, pembiayaan investasi masih mengalami tekanan dan tercatat minus sekitar lima persen sampai enam persen.
Adapun pembiayaan modal kerja masih tumbuh sekitar 8-10 persen. Sementara pembiayaan multiguna yang banyak digunakan untuk kendaraan bermotor masih tumbuh meski industri semakin berhati-hati dalam menyalurkannya.
Suwandi menilai pertumbuhan pembiayaan seharusnya tidak hanya didorong oleh kebutuhan konsumtif, tetapi juga diarahkan ke sektor produktif. Sebab, pembiayaan produktif dinilai dapat membantu masyarakat menghasilkan pendapatan untuk membayar kewajibannya.
“Roadmap daripada pimpinan kami Pak Agusman mengatakan bahwa kita harus 46 persen ke sektor produktif. Jadi kita semua sedang berlari maju, melangkah ke pembiayaan produktif,” katanya.
Dia pun mengingatkan perusahaan penyedia BNPL agar tidak hanya mengejar pertumbuhan penyaluran, tetapi juga memperkuat edukasi kepada pengguna. Menurut Suwandi, kemudahan mendapatkan pembiayaan harus diikuti kesadaran untuk membayar kembali kewajiban.
“Jadikanlah BNPL Buy Now Pay Later yang benar-benar, jangan Buy Now Pay Never,” tegasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
