Media Asuransi, JAKARTA – Bank Saqu, layanan perbankan milik Astra Financial dan WeLab, hingga Juni 2026 menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp8,9 triliun. Seiring dengan itu, penyaluran kredit tumbuh 37,4 persen secara tahunan (YoY) menjadi Rp8,6 triliun.
Penyaluran kredit tersebut ditopang oleh segmen Bank Saqu Bisnis dan Digital serta didukung oleh kepercayaan lebih dari 3,8 juta nasabah yang memanfaatkan Bank Saqu sebagai mitra finansial untuk mendukung aktivitas usaha dan kebutuhan finansial sehari-hari.
Plt. Presiden Direktur Bank Saqu Leka Madiadipoera mengatakan Bank Saqu melihat pertumbuhan ini sebagai wujud kepercayaan masyarakat akan solusi keuangan yang praktis, relevan, dan mampu mendukung berbagai tujuan finansial, baik untuk kebutuhan pribadi maupun pengembangan usaha.
“Kepercayaan tersebut menjadi fondasi bagi kami untuk terus menghadirkan layanan yang memberikan nilai tambah bagi nasabah,” katanya, dikutip dari keterangan resminya, Jumat, 24 Juli 2026.
|Baca juga: Bank Mandiri (BMRI) Klaim Konsisten Integrasikan Prinsip ESG di Strategi dan Proses Bisnis
|Baca juga: Bank Mandiri (BMRI) Catat NPL Membaik Jadi 0,98% di Semester I/2026
Bank Saqu bukan hanya menyediakan produk perbankan, tetapi juga membangun ekosistem yang mendukung masyarakat produktif untuk tumbuh dan berkembang. Melalui Solopreneur Academy, yang hingga kini telah diikuti 1.000 peserta, Bank Saqu mendukung pengembangan bisnis pelaku usaha.
Sementara Sunrise Society hadir sebagai culture movement yang mendorong gaya hidup aktif dan sehat secara berkelanjutan. Sejak Juli 2025, Sunrise Society telah diikuti lebih dari 2.300 peserta dan menjadi wadah bagi para early risers untuk membangun koneksi, berbagi inspirasi, dan memulai hari dengan aktivitas yang produktif.
Sebagai layanan perbankan yang hadir untuk masyarakat produktif, Bank Saqu terus menghadirkan berbagai solusi digital yang membantu nasabah mengelola keuangan dengan lebih mudah, fleksibel, dan sesuai kebutuhan mereka. Selain itu, berbagai fitur menabung dan pengelolaan keuangan juga menjadi pilihan nasabah.
“Pertumbuhan kredit yang sehat didorong oleh meningkatnya kebutuhan pembiayaan dari pelaku usaha dan masyarakat produktif. Kami terus menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan nasabah, sekaligus menjaga kualitas pertumbuhan bisnis melalui penerapan prinsip kehati-hatian yang kuat,” pungkas Leka.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
