1
1

DBS: Kepercayaan Investor Bergantung pada Konsistensi Kebijakan, Review MSCI, hingga Gubernur BI Baru

Senior Economist DBS Bank Radhika Rao (kiri). | Foto: Bank DBS Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Senior Economist DBS Bank Radhika Rao menyatakan Indonesia masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga stabilitas ekonomi. Kondisi itu didukung oleh kenaikan suku bunga secara antisipatif oleh bank sentral serta kepastian stabilitas fiskal akan tetap dijaga.

Narasi kebijakan yang konstruktif, ia menambahkan, diperkuat oleh sinyal pasar yang jelas, kredibel, dan konsisten, akan menjadi faktor penting dalam menjaga ekspektasi dan memperkuat stabilitas secara keseluruhan.

“Disiplin fiskal akan tetap menjadi penopang utama, dengan defisit dijaga di bawah tiga persen dari PDB dan belanja negara yang semakin diarahkan ke sektor-sektor produktif,” kata Radhika, dalam media briefing DBS Institutional Investor Forum 2026, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Namun, lanjutnya, risiko inflasi tetap perlu dipantau secara cermat, mengingat potensi tekanan dari penyesuaian harga bahan bakar, gangguan terkait cuaca seperti El Niño, serta volatilitas harga minyak global, yang seluruhnya dapat meningkatkan biaya subsidi dan membatasi ruang fiskal.

“Pada akhirnya, kepercayaan investor akan bergantung pada konsistensi dan kredibilitas arah kebijakan, termasuk perkembangan terkait peringkat kredit negara, hasil tinjauan MSCI, penunjukan Gubernur Bank Indonesia berikutnya, serta keberlanjutan momentum reformasi institusional,” ujar Radhika.

Head of Research Indonesia DBS Group Research William Simadiputra menambahkan volatilitas pasar sejak awal tahun masih tinggi. Sentimen investor turut dipengaruhi oleh eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah, termasuk Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi energi global.

|Baca juga: Permata Bank (BNLI) Catat Laba Bersih Tumbuh 4,5% di Semester I/2026

|Baca juga: Danamon (BDMN) Pede NPL Tetap Rendah hingga Akhir 2026, Begini Siasatnya!

“Kondisi ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi ke depan, sejalan dengan risiko kenaikan harga energi yang juga menjadi perhatian pelaku pasar,” tuturnya.

Dirinya menjelaskan kekhawatiran inflasi ini turut tercermin di pasar ekuitas Indonesia, karena investor terus melakukan asesmen terhadap berbagai risiko dan membaca sinyal dari indikator pasar. Dari sisi strategi portofolio, DBS tetap overweight pada sektor energi dan komoditas yang dipandang sebagai sektor investasi prioritas.

Hal itu, lanjutnya, mengingat ketahanan energi global berperan penting secara jangka panjang. Selain itu, DBS juga fokus mencari perusahaan dengan fundamental yang kuat, mengingat tren suku bunga yang masih tinggi membuat pasar semakin selektif.

“Meski menghadapi berbagai tantangan, nilai positif diberikan oleh lembaga pemeringkat internasional dengan tetap mempertahankan status investment grade Indonesia,” ujar William.

Menanggapi dinamika pasar tersebut, Head of Global Financial Markets Bank DBS Indonesia Ronny Setiawan menekankan pentingnya strategi alokasi aset yang adaptif bagi para investor institusi. Di tengah volatilitas pasar, tantangan bagi investor institusi bukan sekedar mengelola risiko, tetapi menentukan kapan harus bersikap defensif.

“Dan kapan mulai menangkap peluang. Karena itu, strategi alokasi aset perlu tetap disiplin namun cukup fleksibel untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi pasar. Dengan pendekatan tersebut, investor dapat membangun ketahanan portofolio sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul di setiap fase siklus ekonomi,” pungkas Ronny.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post BSDE Raih Pendapatan Rp4,75 Triliun di Semester I
Next Post Bank Neo Commerce (BBYB) Bukukan Laba Rp294,85 Miliar di Semester I/2026

Member Login

or