Media Asuransi, JAKARTA – Rendahnya tingkat inklusi keuangan syariah dinilai masih menjadi tantangan utama dalam mendorong pertumbuhan industri perbankan syariah di Indonesia. Apalagi, hal itu terjadi di tengah besarnya populasi Muslim.
Direktur Retail Banking PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI Kemas Erwan Husainy mengatakan kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan syariah masih cukup lebar. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh pelaku industri untuk meningkatkan penggunaan layanan perbankan syariah di masyarakat.
|Baca juga: RUPSLB JMA Syariah (JMAS) Rombak Formasi Komisaris dan Direksi, Ini Susunan Barunya!
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Salurkan Pembiayaan Baru Rp5,5 Triliun di Kuartal I/2026
“Secara nasional literasi di 66 persen dan inklusinya 80 persen. Nah, bagaimana dengan di keuangan syariah? Bahwa 43 persen masyarakat sudah paham konsep keuangan syariah, tapi baru 13 persen yang benar-benar menggunakan,” ujar Kemas, dalam webinar Akselerasi Pengembangan Perbankan dan Pasar Modal Syariah, Senin, 4 Mei 2026.
Ia menjelaskan tren literasi keuangan syariah dalam beberapa tahun terakhir memang mengalami peningkatan, khususnya sejak 2024 hingga 2025. Namun demikian, peningkatan tersebut belum diikuti oleh pertumbuhan inklusi yang sepadan.
“Literasinya semakin hari semakin tinggi, tapi kita masih ada PR di inklusi. Nah ini yang menjadi tantangan bagi kami para pelaku syariah, khususnya perbankan syariah di Indonesia,” katanya.
|Baca juga: Tumbuh 10%, Citi Indonesia Bukukan Laba Bersih Rp2,8 Triliun di 2025
|Baca juga: Bos Citi Indonesia Dukung Rencana OJK Ubah Aturan RBB
Di sisi lain, Kemas menilai, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri perbankan syariah secara berkelanjutan. Hal ini didukung oleh status Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang mencapai sekitar 249 juta jiwa.
Meski demikian, peluang tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam pangsa pasar perbankan syariah. Ia mencatat pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia saat ini masih berada di kisaran 7,5 persen, jauh tertinggal dibandingkan dengan sejumlah negara lain seperti Malaysia, Uni Emirat Arab, hingga Arab Saudi.
Menurut dia, kondisi ini menunjukkan masih luasnya ruang pertumbuhan yang dapat dimanfaatkan oleh industri perbankan syariah nasional. Upaya peningkatan inklusi menjadi kunci untuk mengejar ketertinggalan tersebut.
Dalam memperluas penetrasi pasar, BSI memfokuskan strategi pada segmen masyarakat dengan preferensi tinggi terhadap layanan syariah, terutama kelompok conformist dan universalist. Kedua segmen ini dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan inklusi keuangan syariah ke depan.
|Baca juga: Citi Indonesia Siap Optimalkan 4 Pipeline Bisnis Ini di 2026
|Baca juga: Penyaluran Kredit KB Bank (BBKP) Tumbuh 2,61% Jadi Rp43,19 Triliun di Kuartal I/2026
Selain itu, perseroan juga menggarap tiga lini utama bisnis, yakni segmen individu dan pelaku usaha mandiri, ekosistem syariah, serta segmen wholesale. Kemas berharap ketiga segmen ini dapat menjadi motor penggerak peningkatan literasi dan inklusi secara bersamaan.
Dari sisi kinerja, BSI mencatat pertumbuhan aset yang signifikan sejak berdiri pada 2021. Hingga Februari 2025, total aset perseroan telah mencapai sekitar Rp450 triliun, meningkat dibandingkan dengan posisi awal merger yang sebesar Rp220 triliun.
Kemas menegaskan pertumbuhan tersebut menjadi indikasi tingkat literasi masyarakat terhadap keuangan syariah sebenarnya sudah cukup kuat. Namun, diperlukan kolaborasi yang lebih luas antarpelaku industri untuk mendorong inklusi agar dapat tumbuh lebih cepat.
|Baca juga: Legislator Lempar Pujian untuk IFG Life, Ternyata Ini Alasannya!
|Baca juga: Asuransi Jasa Tania (ASJT) Tebar Dividen Rp1,34 Miliar, Simak Jadwal dan Ketentuannya!
“Artinya kami optimistis dan berkeyakinan sebetulnya masyarakat Indonesia itu tadi, literasinya sudah kuat, tinggal bagaimana mengoptimalkan secara inklusi seperti apa. Kami tidak sendiri tentunya, melalui wadah Asbisindo dan kerja sama dengan Himbarsi untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
