Media Asuransi, JAKARTA – Demam Berdarah Dengue (DBD), demam tifoid, dan Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan dan World Health Organization (WHO) menunjukkan penyakit tropis masih menjadi isu kesehatan yang perlu diwaspadai masyarakat secara berkelanjutan.
Berdasarkan data tersebut, pada 2024, Indonesia menempati posisi kedua jumlah kasus TBC tertinggi di dunia dengan jumlah kasus mencapai 1,06 juta kasus per tahun. Indonesia juga mencatat 210.644 kasus DBD dengan 1.239 kematian, sementara demam tifoid masih menyebabkan puluhan ribu kasus setiap tahunnya.
|Baca juga: Jangan Remehkan Penyakit Tropis, Allianz Indonesia Catat Ribuan Klaim di Awal 2026!
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi kesehatan, Allianz Indonesia menghadirkan ruang diskusi Ngobrol Bareng Allianz Citizens (NgobrAZ) bertajuk ‘Waspada Tropical Diseases’ yang menghadirkan dokter dan edukator kesehatan, dr. Dion Haryadi.
Dalam sesi tersebut, dr. Dion mengulas mengapa sejumlah penyakit tropis yang telah dikenal lama masyarakat justru masih menjadi penyumbang kasus yang tinggi di Indonesia hingga saat ini.
“Meski telah lama dikenal masyarakat Indonesia, penyakit DBD, demam tifoid, dan TBC masih menjadi penyakit yang menghantui setiap tahunnya. Padahal, sebagian besar penyakit tropis sebenarnya dapat dicegah,” ujar dr. Dion Haryadi, dalam keterangan resminya, Senin, 22 Juni 2026.
Salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian penyakit tropis adalah anggapan penyakit-penyakit tersebut sudah umum terjadi sehingga sering kali dianggap tidak terlalu berisiko. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang menunda pemeriksaan atau baru mencari pertolongan medis ketika gejalanya sudah semakin berat.
|Baca juga: LPS Wanti-wanti Ancaman AI Colonialism di Industri Keuangan, Apa Itu?
|Baca juga: Kenapa Gen Z Belum Kepincut Asuransi? Begini Penjelasan dari LPS
Pada kasus DBD, misalnya, masih banyak masyarakat yang menganggap pasien sudah membaik ketika demam mulai turun. Padahal, fase tersebut justru menjadi periode yang paling kritis.
Sementara pada demam tifoid, gejala seperti demam, lemas, atau gangguan pencernaan kerap dianggap akibat kelelahan atau gangguan kesehatan ringan. Sedangkan untuk TBC, batuk yang berlangsung lama sering kali tidak segera diperiksakan karena dianggap sebagai batuk biasa yang dapat sembuh sendiri.
Selain itu, kondisi iklim tropis, kepadatan penduduk, sanitasi, serta keberadaan vektor penyakit seperti nyamuk juga membuat berbagai penyakit tropis masih terus ditemukan di Indonesia.
View this post on Instagram
Kombinasi faktor lingkungan dan keterlambatan penanganan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa DBD, demam tifoid, dan TBC masih banyak ditemukan hingga saat ini, sebagaimana juga tercermin dalam tingginya jumlah klaim yang tercatat oleh Allianz Indonesia.
|Baca juga: Allianz Life Indonesia Bidik Premi Tumbuh Berkelanjutan di 2026
|Baca juga: Yakin IHSG Kembali Menguat, DBS: Kans Kita Masih Bagus!
Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang menganggap remeh penyakit tropis. Sebagai contoh, banyak yang baru menyadari biaya rawat inap pasien DBD di rumah sakit dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp20 juta, tergantung tingkat keparahan, lama perawatan, kebutuhan pemeriksaan dan pengobatan, hingga penanganan medis tambahan.
Biaya tersebut juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun seiring kenaikan biaya layanan kesehatan. Kondisi ini tentu saja bisa sangat memberatkan bagi masyarakat jika tidak dibantu dengan BPJS atau pun asuransi kesehatan swasta individu yang dimiliki.
Masyarakat perlu memastikan untuk memiliki BPJS aktif dan asuransi kesehatan swasta individu yang akan membantu memberikan tambahan jaminan perlindungan kesehatan diluar yang dicover oleh BPJS.
|Baca juga: Ada Wacana Iuran BPJS Bakal Naik, Asuransi Swasta Justru Kecipratan Berkah?
|Baca juga: KB Bank (BBKP) Buka Suara soal PHK Ratusan Karyawan dan Penutupan Puluhan Kantor Cabang
dr. Tubagus Argie menambahkan penyakit tropis mungkin terdengar akrab bagi masyarakat Indonesia, tetapi bukan berarti bisa dianggap sepele. Mengenali gejala sejak dini dan melakukan pencegahan sederhana dapat membantu melindungi diri sendiri maupun orang-orang terdekat.
“Dengan biaya perawatan beberapa penyakit tropis yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, perlindungan kesehatan yang memadai menjadi semakin penting untuk membantu menghadapi risiko finansial yang dapat timbul akibat kebutuhan perawatan medis,” tutup dr. Tubagus Argie.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

