Media Asuransi, JAKARTA – Tren tingginya kasus penyakit tropis di Indonesia turut tercermin pada kinerja klaim industri asuransi kesehatan. Hingga pertengahan Juni 2026, Allianz Indonesia membayarkan klaim senilai lebih dari Rp41 miliar untuk penanganan demam berdarah dengue (DBD), demam tifoid, dan tuberkulosis (TBC). Ini menunjukkan bahwa ketiga penyakit tersebut masih menjadi risiko kesehatan yang signifikan bagi masyarakat di berbagai kalangan.
Demam Berdarah Dengue (DBD), demam tifoid, dan tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan kesehatan di Indonesia. Pada 2024, Indonesia menempati posisi kedua jumlah kasus TBC tertinggi di dunia dengan jumlah kasus mencapai 1,06 juta kasus per tahun. Indonesia mencatat 210.644 kasus DBD dengan 1.239 kematian, sementara demam tifoid masih menyebabkan puluhan ribu kasus setiap tahunnya.
Tidak hanya menyediakan perlindungan finansial, Allianz Indonesia juga berperan dalam mendorong masyarakat menerapkan gaya hidup sehat dan meningkatkan kesadaran terhadap risiko penyakit.
|Baca juga: Allianz Indonesia Ajak Masyarakat Cegah Penyakit Tropis Secara Berkelanjutan
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia dr. Tubagus Argie F. S. Sunartadirdja, menyampaikan, “Data klaim kami menunjukkan bahwa penyakit tropis masih menjadi salah satu alasan perawatan medis yang cukup tinggi. Di saat yang sama, kami juga melihat ada peningkatan biaya perawatan untuk beberapa penyakit tropis dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan deteksi dini, tidak hanya untuk menjaga kesehatan tetapi juga untuk membantu mengurangi risiko beban finansial,”
Untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap risiko tersebut, Allianz Indonesia menggelar diskusi edukatif Ngobrol Bareng Allianz Citizens (NgobrAZ) bertema “Waspada Tropical Diseases” bersama dokter dan edukator kesehatan, dr. Dion Haryadi.
|Baca juga: Allianz Indonesia : Pentingnya Miliki Financial Security
Dion mengulas mengapa sejumlah penyakit tropis yang telah dikenal lama masyarakat justru masih menjadi penyumbang kasus yang tinggi di Indonesia hingga saat ini. “Meski telah lama dikenal masyarakat Indonesia, penyakit DBD, demam tifoid, dan TBC masih menjadi penyakit yang menghantui setiap tahunnya. Padahal, sebagian besar penyakit tropis sebenarnya dapat dicegah,” ujar dr. Dion Haryadi dalam keterangannya, Senin, 22 Juni 2026.
|Baca juga: Lampu Kuning Inflasi Medis: Allianz Indonesia Ajak Masyarakat Perkuat Pelindungan Kesehatan Berkelanjutan
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian penyakit tropis adalah anggapan bahwa penyakit-penyakit tersebut sudah umum terjadi sehingga sering kali dianggap tidak terlalu berisiko. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang menunda pemeriksaan atau baru mencari pertolongan medis ketika gejalanya sudah semakin berat.
Dion mencontohkan, banyak orang baru menyadari bahwa biaya rawat inap pasien DBD di rumah sakit dapat mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp20 juta, tergantung tingkat keparahan, lama perawatan, kebutuhan pemeriksaan dan pengobatan, hingga penanganan medis tambahan jika terdapat komplikasi. Biaya tersebut juga cenderung meningkat dari tahun ke tahun seiring kenaikan biaya layanan kesehatan.
Kondisi ini tentu saja bisa sangat memberatkan bagi masyarakat jika tidak dibantu dengan BPJS ataupun asuransi kesehatan swasta individu yang dimiliki. Masyarakat perlu memastikan untuk memiliki BPJS aktif dan asuransi kesehatan swasta individu yang akan membantu memberikan tambahan jaminan perlindungan kesehatan di luar yang dicover oleh BPJS.
’Untuk itu, pastikan untuk memeriksakan diri ketika terjadi gejala awal dan jangan menunggu hingga menjadi berat. Ketahui bahwa penyakit tropis memiliki peluang pemulihan yang lebih baik apabila ditangani sejak dini.
Editor : Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

