Media Asuransi, JAKARTA – Country Manager Zurich Indonesia dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk Edhi Tjahja Negara menegaskan saat ini perusahaan tidak hanya menghadapi risiko bisnis yang semakin kompleks, Akan tetapi juga tantangan untuk menjaga kesehatan, keterlibatan, dan produktivitas tenaga kerja.
“Karena itu, membangun workforce resilience bukan lagi sekadar inisiatif sumber daya manusia, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang,” katanya, dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis, 5 November 2026.
Konsep resilience kini dipandang semakin relevan dalam menghadapi perubahan lanskap dunia kerja. Tidak hanya mencerminkan kemampuan seseorang untuk menghadapi tekanan, resilience juga menggambarkan kemampuan individu untuk beradaptasi, pulih, dan berkinerja secara optimal di tengah ketidakpastian.
|Baca juga: Prudential Indonesia Bidik Nasabah Kaya Lewat Asuransi Jiwa Berbasis Dolar AS
Studi The Resilient Workforce yang dikembangkan oleh Zurich bersama para akademisi menemukan bahwa resilience dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kesehatan fisik dan mental, hubungan sosial, keamanan finansial, hingga kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital.
Prof. Jan-Emmanuel De Neve, Professor of Economics and Behavioural Science di Saïd Business School, University of Oxford sekaligus Director of the Wellbeing Research Centre, yang mengembangkan riset tersebut bersama Zurich, menegaskan wellbeing dan produktivitas tidak dapat dipisahkan
|Baca juga: Prudential Indonesia Andalkan Strategi Segmentasi Nasabah untuk Pacu Bisnis 2027
|Baca juga: Prudential Indonesia Sebut Prospek Asuransi Kesehatan Masih Menjanjikan, Ini Pendorongnya!
Ia menambahkan selama ini produktivitas sering dipandang sebagai hasil dari keterampilan, pengalaman, atau insentif. Namun, data menunjukkan pekerja yang lebih resilien cenderung memiliki kinerja yang lebih baik.
“Ketika individu memiliki dukungan yang memadai untuk menjaga kesehatan fisik, psikologis, sosial, finansial, dan digital mereka, mereka cenderung lebih siap menghadapi perubahan dan mampu memberikan kontribusi yang lebih baik bagi organisasi,” tukasnya.
Temuan terbaru dari studi global Zurich, The Resilient Workforce, menunjukkan 88 persen pekerja dengan tingkat resilience atau ketahanan tertinggi melaporkan kinerja yang baik atau sangat baik, hampir dua kali lipat dibandingkan dengan kelompok dengan tingkat resilience terendah (44 persen).
Studi tersebut juga menemukan resilience memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap performa kerja. Bahkan, keterkaitan antara resilience dan kinerja tercatat lebih kuat dibandingkan dengan faktor pendapatan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
