1
1

Tugure Sharing Session Soroti Disiplin Pricing di Tengah Kondisi Soft Market

PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) menyelenggarakan Tugure Sharing Session sebagai bagian dari program Tugure Academy. Direktur Keuangan Tugure Drajat Irwansyah (duduk keempat dari kiri) bersama Direktur Operasional Tugure, Erwin Basri (duduk kelima dari kiri) berfoto bersama dengan para peserta Tugure Sharing Session. | Foto: Tugure

Media Asuransi, JAKARTA – PT Tugu Reasuransi Indonesia (Tugure) menyelenggarakan Tugure Sharing Session: Reinsurance Pricing Assessment sebagai bagian dari program Tugure Academy, sebuah forum berbagi wawasan bersama mitra usaha mengenai dinamika industri reasuransi, perkembangan reinsurance pricing, serta tantangan di tengah kondisi soft market — periode ketika tingginya kapasitas pasar mendorong penurunan harga dan pelonggaran terms and conditions.

Kegiatan dibuka oleh Direktur Operasional Tugure, Erwin Basri, yang menyampaikan bahwa kondisi pasar retrosesi secara umum hingga saat ini masih relatif stabil. Namun demikian, dinamika industri tetap perlu menjadi perhatian bersama, khususnya dengan adanya risiko catastrophe (CAT) seperti gempa bumi, serta kondisi pasar yang masih mengalami softening.

“Melalui kegiatan ini, para peserta dapat berinteraksi langsung dengan kami untuk berdiskusi mengenai berbagai isu yang saat ini dihadapi industri. Di tengah risiko gempa dan kondisi softening market, tentunya kita perlu bersama-sama mencermati perkembangan yang terjadi agar dapat menjaga kondisi bisnis tetap sehat,” ujar Erwin dalam keterangan resmi, Jumat, 4 September 2026.

|Baca juga: TuguRe Kembali Adakan ‘Tribut  to Women’

Sharing session dilanjutkan oleh Technical Analytic & Development Group Head Tugure Andriansyah, yang membahas perkembangan reinsurance pricing, siklus pasar, serta pembelajaran dari berbagai kejadian di industri perasuransian global.

Salah satu studi kasus yang diangkat adalah HIH Insurance, perusahaan asuransi Australia yang mengalami keruntuhan pada 2001 dan menjadi salah satu kegagalan korporasi terbesar dalam sejarah Australia. Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi ekspansi agresif, akuisisi perusahaan asuransi lain, soft market, under-pricing, dan under-reserving.

Kasus tersebut menjadi pembelajaran bahwa pertumbuhan bisnis yang agresif pada saat soft market, apabila tidak diimbangi disiplin pricing, kecukupan cadangan, dan governance yang kuat, dapat meningkatkan kerentanan perusahaan ketika siklus pasar berubah.

“Hal ini menjadi pengingat bahwa pricing merupakan salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan seluruh pelaku industri. Kondisi pasar saat ini membuat tantangan tersebut menjadi semakin besar. Ketika pasar menetapkan harga di bawah technical pricing, pada dasarnya industri sedang menabung risiko yang lebih tinggi untuk masa depan,” jelas Andriansyah.

|Baca juga: Bencana Alam Tidak Hanya Hantam Perusahaan Asuransi, Reasuransi Juga Bisa Kena Batunya!

Menurut Andriansyah, kondisi soft market saat ini turut dipengaruhi performa industri asuransi dan reasuransi global yang relatif baik, termasuk di Eropa, sehingga mendorong kompetisi dan memberikan tekanan terhadap pricing maupun terms and conditions. Periode ini perlu dicermati karena penurunan harga dan pelonggaran terms berpotensi menghasilkan portofolio dengan tingkat risiko lebih tinggi ketika pasar kembali memasuki fase hard market.

Dalam konteks tersebut, Tugure menerapkan technical pricing integrity sebagai acuan utama dalam penetapan harga. Setiap penetapan harga mengacu pada technical pricing, dan penyimpangan dari acuan tersebut hanya dapat dilakukan melalui persetujuan Underwriting Committee dengan justifikasi teknis yang terdokumentasi, sehingga risiko tetap terkelola. Penerapan IFRS 17 (PSAK 117) juga mendorong peningkatan disiplin pencadangan dan pengelolaan kecukupan cadangan teknis.

“Yang akan mampu bertahan dalam kondisi soft market adalah perusahaan yang tetap disiplin dalam pricing, memiliki governance yang kuat dalam pricing dan cadangan teknis, serta terus mempersiapkan diri menghadapi next cycle,” ujar Andriansyah.

Diskusi juga menyoroti kondisi catastropic events (CAT)  di Indonesia. Meskipun pada 2025 terdapat sejumlah kejadian CAT yang cukup besar, dampaknya terhadap harga di pasar reasuransi domestik relatif belum terasa karena pasar reasuransi global masih berada dalam fase soft market dengan kapasitas yang berlimpah.

Melalui Tugure Sharing Session: Reinsurance Pricing Assessment, Tugure dan mitra usaha diharapkan dapat membangun pemahaman bersama mengenai dinamika pasar, pentingnya disiplin pricing, serta pengelolaan risiko dan cadangan teknis.

Editor  Wahyu Widiastuti

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Perlindungan Konsumen Perlu Dimulai Sebelum Mengambil Keputusan Finansial
Next Post IHSG Sesi I Terpangkas Tipis di Sesi I Jumat

Member Login

or