Medoa Asuransi, JAKARTA – Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mencatat defisit sebesar US$0,45 miliar. Lebih rendah dibandingkan dengan defisit bulan sebelumnya sebesar US$1,61 miliar.
Defisit neraca perdagangan yang lebih rendah terutama bersumber dari surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat, diikuti dengan defisit neraca perdagangan migas yang menurun.
|Baca juga: Inflasi pada Juli 2026 Sebesar 2,88%
Neraca perdagangan nonmigas pada Juni 2026 mencatat surplus sebesar US$3,04 miliar. Lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada bulan sebelumnya sebesar US$2,15 miliar.
Perkembangan tersebut ditopang oleh meningkatnya ekspor nonmigas sebesar US$ 24,39 miliar, terutama berasal dari ekspor komoditas berbasis sumber daya alam seperti lemak dan minyak hewani/nabati serta bahan bakar mineral maupun ekspor produk manufaktur seperti mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya juga mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya.
|Baca juga: Survei Bank Indonesia: Kegiatan Dunia Usaha Meningkat di Triwulan II/2026
Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke China, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi kontributor utama ekspor Indonesia.
Di sisi lain, defisit neraca perdagangan migas tercatat menurun menjadi sebesar US$3,49 miliar pada Juni 2026 dari realisasi bulan sebelumnya sebesar defisit US$3,76 miliar, sejalan dengan peningkatan ekspor migas yang lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan impor migas. Dengan perkembangan ini, neraca perdagangan Indonesia periode Januari-Juni 2026 secara kumulatif tetap mencatat surplus sebesar US3,58 miliar.
“Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan pemerintah dan otoritas lain, guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resmi.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
