Media Asuransi, JAKARTA – Bank Dunia atau World Bank mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan melambat menjadi lima persen pada 2026. Hal itu karena meningkatnya tekanan fiskal akibat program pengeluaran yang ambisius dan meningkatnya biaya subsidi bahan bakar setelah perang Iran.
Mengutip Reuters, Jumat, 12 Juni 2026, proyeksi Bank Dunia ini lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan Indonesia sebesar 5,4 persen hingga enam persen. Indonesia telah dilanda arus keluar modal yang besar tahun ini, dengan rupiah anjlok ke titik terendah sepanjang masa dan pasar saham merosot lebih dari 30 persen.
|Baca juga: Anak Muda Merapat, Pemerintah Bidik 40,81% Lapangan Kerja Formal di 2027
Kondisi itu terjadi sebagai respons terhadap kekhawatiran investor tentang rencana pengeluaran besar Presiden Prabowo Subianto, bahkan ketika subsidi bahan bakar dari anggaran negara membengkak.
“Proyeksi 2026 mencerminkan hasil kuartal pertama yang lebih kuat dari perkiraan dan pengeluaran publik yang terkonsentrasi di awal tahun, bukan lingkungan eksternal yang lebih baik atau penilaian risiko,” demikian penilaian Bank Dunia terhadap perekonomian Indonesia.
Disebutkan tingkat pertumbuhan bergantung pada kemampuan stimulus fiskal pemerintah untuk mendorong konsumsi publik, yang menimbulkan risiko karena ruang gerak negara yang terbatas dalam hal pengeluaran.
View this post on Instagram
“Harga minyak yang lebih tinggi meningkatkan biaya subsidi dan kompensasi energi, sementara depresiasi rupiah meningkatkan biaya pembayaran utang luar negeri,” kata laporan tersebut.
|Baca juga: Harga BBM Naik Gila-gilaan, Asuransi Kendaraan Bakal Kena Getah?
|Baca juga: Pemerintah dan Komisi XI Sepakat Ekonomi RI Ditargetkan Tumbuh 6,5% di 2027
Bank Dunia menyerukan pemerintah untuk secara bertahap menyesuaikan subsidi bahan bakar untuk menekan tekanan fiskal yang meningkat. Adapun Indonesia telah menggunakan keuangan negara untuk menjaga harga bahan bakar tetap tidak berubah, sebuah langkah yang bertujuan untuk memperkuat dukungan publik.
Bank Dunia menaikkan harga hanya untuk dua jenis bensin yang banyak digunakan sebesar 32 persen awal pekan ini, sebuah langkah yang ditafsirkan oleh para analis sebagai penyesuaian kembali kebijakan.
|Baca juga: OJK Beberkan Biang Kerok ROI Dana Pensiun Tergerus di Awal 2026
|Baca juga: Ekonom DBS Bongkar Alasan BI Bikin Kejutan Naikkan Suku Bunga di Luar Jadwal
Laporan Bank Dunia memperingatkan subsidi umum pada akhirnya menguntungkan rumah tangga yang lebih kaya daripada kelompok masyarakat yang rentan. Harga bahan bakar merupakan isu yang sensitif secara politik di Indonesia, dan kenaikan harga telah memicu protes di seluruh kepulauan berpenduduk 280 juta jiwa ini.
Laporan tersebut mengatakan guncangan harga minyak memberikan peluang untuk mereformasi program subsidi dan beralih ke bantuan yang lebih terarah, termasuk transfer tunai kepada 40 persen rumah tangga termiskin dan pengalokasian kembali tabungan untuk perlindungan sosial dan investasi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

