Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menilai kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi belum memberikan tekanan signifikan terhadap inflasi dan masih sejalan dengan target yang ditetapkan.
Deputi Gubernur BI Aida S Budiman mengatakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dipicu kenaikan harga komoditas global memang akan mendorong inflasi pada April 2026. Namun, dampaknya relatif kecil karena bobot komponen tersebut dalam Indeks Harga Konsumen (IHK) terbatas.
|Baca juga: RUPS Trisula Textile Industries (BELL) Sepakati Pembagian Dividen Rp10 Miliar
|Baca juga: Bos BI: Kebijakan Moneter Terus Diperkuat untuk Jaga Stabilitas Rupiah
“BBM nonsubsidi apabila kita lihat dengan bobotnya di inflasi maka untuk April ini bisa meningkatkan inflasi tapi tidak terlalu besar, hanya sebesar 0,04 persenan,” ujar Aida, dalam konferensi pers RDG BI, Rabu, 22 April 2026.
BI memperkirakan inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5 persen plus minus satu persen hingga 2027. Proyeksi tersebut didasarkan pada kondisi inflasi yang masih terkendali serta koordinasi kebijakan yang terus diperkuat.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, BI mencermati potensi tekanan dari perlambatan global. Meski demikian, prospek ekonomi domestik dinilai masih solid dengan proyeksi pertumbuhan di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen.
Upaya pengendalian inflasi juga diperkuat melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, termasuk melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID). Sejumlah langkah ditempuh untuk menjaga stabilitas harga, terutama pada komoditas pangan.
|Baca juga: Visa Hadirkan Cara Baru Menikmati Perjalanan Lewat Marriott Bonvoy Mandiri Credit Card
|Baca juga: Setahun IPO, Sinar Terang Mandiri (MINE) Bagikan Dividen Rp60,23 Miliar
Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali menyebutkan inflasi hingga Maret 2026 masih berada dalam sasaran, yakni 3,48 persen secara tahunan. “Inflasi IHK kita tercatat masih terjaga 3,48 persen setahun. Ini masih di dalam kisaran yang kita targetkan 2,5 persen plus minus satu,” kata Ricky.
Ia menambahkan kenaikan harga BBM berpotensi memengaruhi harga barang dan jasa, baik secara langsung maupun melalui biaya distribusi dan produksi. Selain itu, tekanan global seperti kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok turut menjadi faktor risiko.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, BI mengerahkan jaringan kantor perwakilan di daerah guna merespons potensi inflasi, termasuk yang dipicu kondisi cuaca seperti El Nino. “Bank Indonesia melalui 46 kantor perwakilan dalam negeri siap merespons potensi tekanan inflasi dari global, khususnya dari kenaikan harga energi atau BBM,” ujarnya.
|Baca juga: BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75% di Tengah Tekanan Global
|Baca juga: Permata Bank (BNLI) Perluas Layanan Syariah di Tengah Inklusi yang Masih Rendah
Langkah yang dilakukan mencakup penguatan kerja sama antardaerah, penyediaan fasilitas distribusi pangan, serta pelaksanaan operasi pasar murah guna menjaga pasokan dan stabilitas harga.
Selain itu, pengawasan distribusi BBM bersubsidi juga diperketat melalui koordinasi dengan berbagai pihak di daerah untuk memastikan kebijakan energi tidak memicu tekanan inflasi tambahan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
