1
1

Tak Cuma Nikel, Ini Sektor Baru yang Dibidik Pemerintah untuk Hilirisasi

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani. | Foto: Setkab

Media Asuransi, JAKARTA – Pemerintah mulai memperluas program hilirisasi ke sektor di luar pertambangan. Dalam hal ini, pemerintah akan mendorong pengembangan industri semikonduktor, bioetanol, hingga produk turunan kelapa dan rumput laut.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani mengatakan perluasan hilirisasi dilakukan agar manfaat investasi dan penciptaan nilai tambah tidak hanya bergantung pada komoditas mineral.

“Ke depan kami memperluas hilirisasi ini ke komoditas bernilai tambah lebih tinggi seperti semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa, dan rumput laut,” kata Rosan dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Selasa, 1 September 2026.

Menurut Rosan, hilirisasi menjadi salah satu penggerak utama investasi Indonesia sekaligus mendorong lebih banyak nilai tambah dari komoditas dalam negeri. Dengan begitu, bahan mentah tidak hanya dijual begitu saja, tetapi bisa diolah menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi di dalam negeri.

|Baca juga: Generali Thailand Tunjuk Chief Agency Officer yang Baru

|Baca juga: Manajemen Buka Suara soal Volatilitas Saham LIFE, Pastikan Tak Ada Aksi Korporasi!

Sepanjang semester I/2026, investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional. Angka tersebut tumbuh 6,9 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Investasi hilirisasi masih didominasi sektor mineral dengan nilai Rp206,5 triliun. Komoditas seperti nikel, bauksit, dan tembaga menjadi penyumbang utama. Sementara itu, sekitar 75,7 persen investasi hilirisasi berada di luar Pulau Jawa, terutama di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.

Rosan mengatakan perluasan hilirisasi ke sektor nonmineral diharapkan bisa membuat manfaat investasi semakin luas, termasuk membuka lebih banyak lapangan pekerjaan di berbagai daerah.

“Manfaat tidak hanya terbatas pada sektor mineral, tapi juga pada sektor lain dan juga penciptaan lapangan pekerjaan,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Investasi RI Tembus Rp1.010 Triliun di Semester I/2026, Serap 1,45 Juta Tenaga Kerja
Next Post OCBC One Connect 2026 Buka Peluang Kolaborasi Bisnis Indonesia–China

Member Login

or