Media Asuransi, JAKARTA — Hijab semakin jauh dari sekadar pelengkap busana. Bagi perempuan Muslim yang menjalani aktivitas padat, pilihan hijab kini bersinggungan dengan banyak hal sekaligus: kenyamanan, mobilitas, fungsi, penampilan, hingga cara mengekspresikan diri.
Pergeseran kebutuhan membuat industri modest fashion Indonesia memasuki fase baru, ketika produk tidak cukup hanya terlihat menarik, tetapi juga dituntut mampu menjawab kebutuhan sehari-hari. Perubahan itu terlihat dari langkah UNIQLO Indonesia yang pada Agustus 2026 resmi memasukkan hijab sebagai kategori produk tersendiri.
Mulai 10 Agustus 2026, perusahaan asal Jepang tersebut menghadirkan tiga jenis UNIQLO Hijab, yakni Hijab AIRism Proteksi Sinar UV, Hijab Satin, dan Hijab Georgette. Ketiganya hadir dengan karakter material yang berbeda sehingga setiap orang dapat memilih sesuai gaya dan kebutuhan.
Bagi UNIQLO, kehadiran hijab bukan sekadar menambah jenis produk. Marketing Manager UNIQLO Indonesia Lisqia Lalantika mengatakan pengembangan koleksi tersebut berangkat dari masukan pelanggan, khususnya perempuan Muslim yang membutuhkan pilihan modest wear yang lebih lengkap.
“Di UNIQLO, kami percaya lifeWear selalu dimulai dari memahami bagaimana pelanggan menjalani kesehariannya. Kehadiran kategori baru ini merupakan komitmen kami untuk terus menghadirkan pilihan lifeWear yang semakin relevan untuk penggemar modest fashion,” ujar Marketing Manager UNIQLO Indonesia Lisqia Lalantika.
|Baca juga: OJK Siapkan 12 Bab terkait Aturan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis
Pernyataan Lisqia Lalantika menggambarkan perubahan penting dalam perilaku konsumen modest fashion. Hijab tidak lagi dilihat sebagai satu produk dengan kebutuhan yang seragam. Aktivitas yang berbeda menciptakan tuntutan yang berbeda pula terhadap material, model, tingkat kepraktisan, dan tampilan.
Hijab AIRism Proteksi Sinar UV hadir dalam model hijab instan berbentuk segitiga yang menggunakan material AIRism yang ringan, breathable, cepat kering, anti-odor, serta dilengkapi perlindungan sinar UV dan material stretch untuk memberikan kenyamanan optimal sepanjang hari.
Hijab Satin hadir dalam bentuk pashmina dengan permukaan halus dan sedikit berkilau yang memberikan kesan elegan. Nyaman dikenakan dan mudah dirawat, hijab ini menjadi pilihan yang pas untuk beragam kesempatan, dari keseharian hingga acara formal.
Hijab Georgette hadir sebagai pilihan yang mudah diandalkan. Kainnya ringan, tidak licin, dan gampang di-styling, membuatnya praktis dikenakan kapan saja. Pilihan warnanya pun paling beragam, sehingga selalu ada warna yang pas untuk menemani setiap gaya dan momen.
“Selama beberapa tahun terakhir, kami terus melihat berkembangnya kebutuhan perempuan berhijab di Indonesia seiring dengan semakin banyaknya masukan dari pelanggan yang menginginkan pilihan modest wear yang lebih lengkap dari UNIQLO,” ujarnya.
Langkah UNIQLO menjadi menarik karena dilakukan ketika posisi modest fashion Indonesia justru sedang menguat. Pada 10 Juli 2026, Bank Indonesia (BI) menyampaikan berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dalam ekonomi dan keuangan syariah.
|Baca juga: Mirae Asset: Peluang di Sektor Komoditas Kian Bergantung pada Dampak Kebijakan Pemerintah
Khusus sektor modest fashion, Indonesia berada di peringkat pertama dunia, mengungguli negara-negara lain dalam ekosistem fesyen sopan. Posisi tersebut memberikan konteks yang lebih luas terhadap masuknya pemain global ke kategori hijab.
Modest fashion bukan lagi ceruk pasar yang hanya berkaitan dengan pakaian Muslim, tetapi berkembang menjadi bagian dari industri gaya hidup dengan rantai nilai yang melibatkan desain, tekstil, manufaktur, ritel, perdagangan, hingga ekspor.
Bagi Indonesia, posisi pertama dalam modest fashion menjadi peluang untuk mengubah kekuatan konsumsi domestik menjadi kemampuan produksi dan ekspor. Pemerintah pun melihat industri fesyen sebagai salah satu sektor yang memiliki potensi diplomasi ekonomi.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri pada pembukaan BTN Indonesia Fashion Week 2026 pada Juli 2026 mengatakan, kekuatan utama fesyen Indonesia terletak pada kekayaan wastra Nusantara yang dipadukan dengan kreativitas dan inovasi.
Menurutnya, kombinasi tersebut menjadi modal diplomasi ekonomi sekaligus membuka peluang ekspor sektor fesyen berbasis budaya. “Konsumen global saat ini tidak hanya mencari produk yang berkualitas, tetapi juga produk yang memiliki identitas, cerita, dan nilai keberlanjutan. Wastra kita memenuhi kriteria tersebut,” jelas Roro.
Bisa dikatakan, ketika sebuah merek global seperti UNIQLO mulai memasukkan hijab ke dalam portofolionya, industri Indonesia sebenarnya memiliki dua pekerjaan sekaligus. Pertama, mempertahankan pasar domestik yang besar. Kedua, memastikan peluang pertumbuhan tersebut menciptakan nilai tambah bagi produsen lokal.
Hal itu menjadi penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar konsumsi, tetapi juga basis produksi dan sumber produk modest fashion untuk dunia. dalam konteks itu, Wamendag menegaskan kembali komitmen Kementerian Perdagangan untuk mendorong industri fesyen Indonesia ke mancanegara melalui langkah-langkah strategis.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengungkapkan Indonesia memiliki potensi industri fesyen yang sangat besar, baik sebagai pasar maupun sebagai produsen.
“Modest fashion kini telah berkembang menjadi tren busana global yang tidak hanya diminati oleh masyarakat Muslim, tetapi juga berbagai kalangan lintas budaya dan gaya hidup,” tutur Reni.
|Baca juga: OJK Bakal Resmikan Icomex, Perdagangan Perdana Berlangsung di Awal 2027
Konsep modest fashion terus berevolusi menjadi lebih inklusif, tanpa memandang agama, etnis, maupun preferensi individu. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat modest fesyen dunia, didukung kreativitas desainer lokal, kekayaan budaya, serta keberagaman bahan tekstil berkualitas tinggi yang menjadi identitas bangsa.
Sejalan dengan implementasi kewajiban sertifikasi halal nasional, lanjut Reni, mulai Oktober 2026 pemberlakuan sertifikasi halal salah satunya untuk produk barang gunaan, termasuk produk fesyen dan modest fashion, menjadi momentum strategis untuk meningkatkan daya saing industri nasional.
“Kebijakan ini tidak hanya memberikan jaminan kualitas, keamanan, serta kepercayaan konsumen, tetapi juga menciptakan nilai tambah bagi produk modest fesyen Indonesia di pasar global,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Reni menyampaikan dukungan dan apresiasinya kepada Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) serta seluruh pihak lainnya yang terlibat dalam komitmen pengembangan modest fashion di Indonesia.
“Saya optimistis keterlibatan dan keikutsertaan berbagai pihak akan memperkuat ekosistem modest fashion nasional,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
