Media Asuransi, JAKARTA – Di tengah meningkatnya volatilitas pasar global, Obligasi Negara Ritel (ORI030) dinilai menjadi salah satu pilihan investasi yang menarik bagi investor yang mengutamakan stabilitas dan keamanan. Apalagi saat Indonesia mulai memasuki fase new normal pada semester II/2026, didukung fundamental ekonomi yang tetap kuat dan meningkatnya minat investor terhadap instrumen pendapatan tetap.
Consumer Banking Director UOB Indonesia, Bea Teh Tan, menyampaikan bahwa ketidakpastian terus membentuk lanskap perekonomian global. Mulai dari perubahan kebijakan moneter, dinamika geopolitik, hingga volatilitas pasar.
“Para investor semakin dihadapkan pada pertanyaan tentang bagaimana cara terbaik untuk melindungi sekaligus mengembangkan aset mereka,” katanya dalam acara Navigating Market Volatility: Building Portfolio Resilience with ORI030 yang digelar pada Kamis, 16 Juli 2026.
|Baca juga: UOB ACSS 2025: Konsumen Indonesia kian Berhati-hati dalam Berbelanja
Namun, menurut Bea, di tengah berbagai tantangan tersebut, Indonesia terus menunjukkan ketangguhannya. Didukung oleh fundamental ekonomi domestik yang kuat serta pengelolaan fiskal dan keuangan yang prudent, perekonomian Indonesia tetap berada pada posisi yang baik untuk menghadapi berbagai tantangan eksternal. Kondisi ini juga menjadi momentum penting untuk mendorong masyarakat agar berinvestasi secara lebih bijak, terinformasi, dan disiplin.
“Di tengah ketidakpastian global, investasi yang baik bukan sekadar mengejar imbal hasil tertinggi, tetapi memahami risiko dan tetap berfokus pada tujuan keuangan jangka panjang. Karena itu, literasi keuangan menjadi bagian penting dari komitmen UOB Indonesia dalam membantu masyarakat mengambil keputusan investasi yang tepat,” ujar Bea.
Sementara itu, ASEAN Economist UOB, Enrico Tanuwidjaja, mengatakan bahwa pada semester II/2026 Indonesia memasuki new normal, karena harga minyak dunia akan stabil dengan fluktuasi yang minimum, kestabilan nilai tukar mulai terjadi, optimisme masyarakat kembali tinggi dan perilaku konsumsi dan investasi mulai kembali terjadi.
|Baca juga: Mau Passive Income? ORI030 Punya 10 Keuntungan yang Patut Dilirik
“Perang sudah empat bulan, sehingga saat ini sudah mulai memasuki masa new normal. Semenjak krisis, semua langkah yang dilakukan membuahkan hasil. Bond inflow sudah masuk. Bank Indonesia menaikkan suku bunga. Fiskal sedikit direalokasi itu sudah betul. Nah yang perlu kita lihat selanjutnya adalah protection policy,” kata Enrico.
Dia menambahkan, di new normal ini, investor asing mulai masuk kembali ke pasar Indonesia, orang-orang mulai mencari yield yang menarik. Arahnya ke obligasi dengan yield di atas enam persen dan dijamin negara. Bahkan BI rate kemungkinan akan naik tiga kali lagi hingga akhir tahun 2026 menjadi 6,5 persen.
“Dengan kenaikan BI rate ini akan semakin membuat atraktif untuk berinvestasi di instrumen yang lebih aman. Apalagi ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen, masih bagus karena di atas pertumbuhan rata-rata dunia. Asia Tenggara tetap menjadi oasis pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” tutur Enrico.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
