Media Asuransi, JAKARTA – Head of Investment & Insurance Product DBS Indonesia Djoko Soelistyo meyakini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu kembali menguat usai terperosok akibat penilaian dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Hal itu sejalan dengan fundamental Tanah Air yang kuat.
“Kembali ini tergantung dari beberapa berita nanti. Tapi kalau saya melihatnya secara umum fundamental kita itu sebenarnya positif. Jadi saya masih melihat kemungkinan untuk kembali lagi indeks kita di atas dari sekarang itu kemungkinannya masih ada,” kata Djoko, kepada Media Asuransi, di Jakarta, dikutip Senin, 22 Juni 2026.
|Baca juga: OJK Ungkap Masih Ada 7 Perusahaan Asuransi Belum Punya Aktuaris
|Baca juga: Mirae Asset Sekuritas Sebut BI Punya Ruang untuk Lanjutkan Kenaikan Suku Bunga Acuan
Namun, dirinya belum memberikan kepastian kapan waktu dan di level berapa IHSG bakal menguat. Hal itu, lanjutnya, karena tergantung dari sejumlah data dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah dan regulator terkait termasuk bagaimana pandangan dari MSCI tentang pasar modal Indonesia.
“Cuman pertanyaannya kapan dan berapa titiknya? Terus terang saya nggak bisa jawab. Kenapa? Tergantung dari itu tadi. Contohnya apa komen dari MSCI, kemudian dari titik-titik yang lain, dan apakah ada kebijakan-kebijakan baru, kebijakan suku bunga nanti dampaknya gimana. Nah ini nanti kita mesti lihat dulu,” ujarnya.
Kendati demikian, Djoko meyakini, Indonesia memiliki fundamental yang kuat. Bekal itu yang membuat dirinya melihat kemungkinan pasar modal kembali menguat seperti di awal tahun bisa terjadi. Apalagi, tambahnya, Price to Earning Ratio (PER) di pasar modal Indonesia terbilang menarik ketimbang negara lain.
View this post on Instagram
“Secara fundamental kalau saya lihat, kemungkinan kita untuk kembali, pasar modal kita untuk kembali naik. Apalagi melihat PER yang sangat menarik dibanding negara-negara berkembang lainnya. Otomatis kans kita masih bagus. Kami saat ini nggak mengeluarkan target berapa, tapi yang pasti kami melihat masih positif arahnya,” ujarnya.
Di sisi lain, Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan kondisi pasar saat ini menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga kepercayaan investor dan mempercepat reformasi pasar modal.
|Baca juga: OJK: AI Hanya Alat Bantu, Tanggung Jawab Aktuaris Tetap Melekat pada Manusia
|Baca juga: OJK Minta Aktuaris Adaptif dengan AI di Tengah Perubahan Industri
Di tengah dinamika pasar global yang penuh tantangan, tambahnya, fondasi pasar modal Indonesia tetap kuat. Likuiditas pasar terjaga, partisipasi investor domestik terus meningkat, dan mayoritas perusahaan tercatat tetap menunjukkan kinerja yang positif.
|Baca juga: Bank DBS Indonesia Komitmen Hadirkan Insights Tajam untuk Investasi Personal
“Karena itu, sinergi antara regulator, SRO, pelaku industri, dan investor menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat daya saing pasar modal Indonesia ke depan,” pungkas Jeffrey.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

