1
1

Mengenal Akalasia, Gangguan Sulit Menelan Makanan dan Minuman

Ilustrasi Asupan makanan sehat. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Akalasia merupakan gangguan langka pada kerongkongan (esofagus) yang menyebabkan seseorang kesulitan menelan makanan maupun minuman. Kondisi ini terjadi ketika otot kerongkongan tidak mampu mendorong makanan menuju lambung secara normal.

|Baca juga: Tips Sederhana dari Allianz Obati GERD yang Kambuh Pasca-Lebaran

Pada kondisi normal, Lower Esophageal Sphincter (LES) atau sfingter esofagus bagian bawah akan mengendur ketika makanan masuk, sehingga makanan dapat bergerak menuju lambung. LES merupakan lingkaran otot yang berfungsi mengatur jalur antara kerongkongan dan lambung sekaligus mencegah asam lambung naik kembali.

Namun, pada pengidap akalasia, LES tidak dapat mengendur dengan baik. Akibatnya, makanan dapat menumpuk di kerongkongan atau kembali naik ke mulut.

Kondisi ini diduga berkaitan dengan kerusakan saraf pada kerongkongan, infeksi virus, penyakit autoimun, faktor genetik, serta komplikasi penyakit Chagas akibat infeksi parasit Trypanosoma cruzi. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga dapat berkaitan dengan kanker lambung atau kelenjar getah bening.

Berdasarkan pola gangguan kontraksi otot kerongkongan, akalasia dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

Akalasia Tipe 1 (Klasik)

Pada tipe ini, otot kerongkongan hampir tidak mengalami kontraksi. Akibatnya, makanan bergerak menuju lambung terutama karena bantuan gravitasi.

Akalasia Tipe 2

Tipe ini ditandai dengan peningkatan tekanan di dalam kerongkongan sehingga saluran tersebut mengalami kompresi. Jenis ini merupakan bentuk akalasia yang paling sering ditemukan.

Akalasia Tipe 3 (Spastik)

Pada tipe ini, terjadi kontraksi otot yang tidak normal pada bagian bawah kerongkongan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan nyeri dada dan gangguan menelan.

Tidak semua pengidap akalasia mengalami gejala yang sama. Namun, keluhan paling umum adalah kesulitan menelan makanan dan minuman.

Beberapa gejala lainnya meliputi nyeri atau rasa tidak nyaman saat menelan, makanan atau minuman kembali naik ke mulut, batuk atau tersedak saat menelan, nyeri pada bagian dada, peningkatan produksi air liur, muntah atau regurgitasi makanan, infeksi saluran pernapasan atau dada yang berulang serta penurunan berat badan secara bertahap.

|Baca juga: Primaya Hospital Kelapa Gading Luncurkan Penanganan GERD dan Dialisis Modern

Gejala tersebut dapat berkembang secara perlahan dan semakin mengganggu aktivitas makan sehari-hari.

Akalasia yang tidak ditangani dapat menyebabkan makanan menumpuk di kerongkongan dan meningkatkan risiko komplikasi, seperti gangguan nutrisi serta infeksi saluran pernapasan akibat makanan yang masuk ke saluran napas.

Sejumlah penelitian juga mengaitkan akalasia dengan peningkatan risiko kanker kerongkongan dalam jangka panjang.

Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan apabila seseorang mengalami kesulitan menelan secara berulang, makanan sering kembali ke mulut, atau mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.

Diagnosis dan penanganan sejak dini dapat membantu mengendalikan gejala serta mengurangi risiko komplikasi.

Editor: Irdiya Setiawan

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post 3 Cara Unitlink Menjaga Portofolio Kamu di Tengah Risiko Global
Next Post Bos Allianz Life Indonesia Sebut Solusi Asuransi Harus Sesuai Kebutuhan Nasabah

Member Login

or