1
1

Risiko Fiskal AS Menjadi Penyebab Inflow Dana Asing ke SBN

Head of Investment Specialist Syailendra Capital, Syanne Gracetinne Polii (dok Syailendra Capital)

Media Asuransi, JAKARTA – Keputusan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, menaikkan bunga acuan ke 4 persen tidak serta merta menaikkan minat investor ke aset keuangan dengan denominasi dolar AS. Buktinya, obligasi AS malah mengalami aksi jual dan semakin meluas, sementara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia menjadi pihak yang relatif diuntungkan. Demikian riset manajer investasi Syailendra Capital yang dipublikasikan Jumat, 25 September 2026.

|Baca juga: Syailendra Capital Luncurkan Reksa Dana ETF Emas Syariah

“Risiko fiskal AS mulai menjadi driver baru bagi kenaikan imbal hasil US Treasury, terutama di tenor panjang. Dengan utang AS yang menembus US$40 triliun, tekanan premi tetap tinggi. Di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap risk-reward di pasar obligasi AS, arus dana mulai bergeser ke emerging market, sementara obligasi Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik,” papar riset tersebut.

Tiga hal yang terjadi saat ini menurut Syailendra Capital. Pertama, investor US Treasury mulai memperhitungkan risiko fiskal dan tingginya pasokan obligasi, sehingga kenaikan imbal hasil lebih terasa pada tenor panjang. Utang AS yang telah mencapai US$40,2 triliun juga membuat kebutuhan pembiayaan tetap tinggi dan berpotensi menjaga jangka premi tetap tinggi.

|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Pasar Kembali Berhati-hati di Tengah Tekanan Global

Kedua,  perubahan selera risiko dan perubahan arus obligasi asing menguntungkan menguntungkan negara-negara berkembang di Asia. “Inflow asing ke SBN Indonesia telah mencapai sekitar 8 kali total pada tahun 2025, sementara pergerakan imbal hasil IndoGB relatif lebih stabil dibandingkan UST, didukung oleh penguatan Rupiah dan disiplin fiskal yang lebih baik.” Imbuh riset tersebut.

Ketiga, minat investor global terhadap obligasi Indonesia tetap kuat. Hal ini terlihat dari penerbitan global bond Indonesia telah mencapai US$17,4 miliar hingga Agustus 2026, bahkan melampaui total publikasi sepanjang tahun 2024 dan 2025. “Aktivitas publikasi yang kuat menunjukkan selera investor global terhadap aset Indonesia masih terjaga,” terang riset ini.

Editor: Irdiya Setiawan 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Eastspring Investments Indonesia: Pasar Kembali Berhati-hati di Tengah Tekanan Global
Next Post IHSG Ditutup Melemah di Akhir Pekan

Member Login

or